Tenaga Pendidik Berharap Belajar Tatap Muka Segera Terlaksana Usai Vaksinasi

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Rabu, 24 Feb 2021 18:13 WIB
Vaksinasi Corona untuk Guru Dimulai, Ratusan Guru Divaksin di SMAN 70 Jakarta
Foto: Tiara Aliya/detikcom
Jakarta - Sebanyak 650 tenaga pendidik dari kalangan dosen dan guru menerima vaksinasi COVID-19 perdana. Melalui vaksinasi massal ini, mereka berharap pembelajaran tatap muka segera terlaksana.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Totok Bintoro mengungkapkan pembelajaran tatap muka perlu dilakukan. Menurutnya, metode pembelajaran ini memiliki keunggulan tersendiri yang tidak didapatkan selama pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Bagaimanapun PJJ dan tatap muka sangat berbeda bahwa dengan tatap muka ada keunggulan-keunggulan terutama yang praktek, terutama hal-hal yang dicontohkan secara langsung terutama hal-hal kalau paud itu senyum salam sapa sentuh, bagaimana sentuh kalau jarak jauh. Sentuhan-sentuhan itu adalah bagian dari pendidikan untuk meningkatkan pendidikan holistik dengan adanya pandemi tentu tidak bisa dilakukan," kata Totok usai divaksinasi COVID-19 di SMAN 70 Jakarta, Bungaran, Jakarta Selatan, Rabu (24/2/2021).

Kemudian, Totok menyebut vaksinasi ini sebagai bentuk ikhtiar untuk memutus rantai penyebaran COVID-19. Ia berharap pembelajaran tatap muka bisa segera terpenuhi setelah adanya vaksinasi ini.

"Dengan vaksin ini semoga pandemi segera berakhir semua bisa kembali seperti sediakala, walaupun pembelajaran itu bisa di mix antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh," ucapnya.

Senada dengan Totok, Kepala SLBN 11 Tebet, Triyanti Murjoko, berharap pembelajaran tatap muka bisa dilakukan pada Juli 2021. Saat ini, sebut Murjoko, para guru di sekolahnya merindukan mengajar siswanya secara langsung.

"Iya sangat rindu, ingin segera KBM tatap muka jalan, tapi dengan syarat semua sudah terlindungi dan protokol kesehatan tetap dijalankan," ungkap Murjoko.

Totok mengakui ada tantangan tersendiri selama mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK) di masa PJJ ini. Sebab, beberapa anak belum bisa menggunakan gawai secara mandiri. Namun, apa pun kondisinya, ia memastikan pembelajaran tetap terlaksana dengan baik.

"Tantangan kita untuk anak-anak berkebutuhan khusus ini harus ekstrasabar dan mengikuti juga kendala dari orang tua. Kendala dari orang tua mungkin hari ini dia nggak punya kuota, ponsel juga ganti-gantian. Anak-anaknya belum bisa pakai," terangnya.

"Kita harus optimis, bahwa pembelajaran harus tetap berjalan, saat ini sudah berjalan secara daring, (tatap muka) tertunda lagi karena kita tidak bisa mengendalikan pandemi ini. Mudah-mudahan vaksin ini tujuan akhirnya adalah semua warga negara terlindungi, semakin cepat semakin baik, mudah-mudahan Juli kita sudah mulai tatap muka anak-anak sudah menunggu," tegasnya.

Terakhir, Kepala Sekolah MTSN 9 Jakarta Pusat Mufrodah mengaku telah melakukan persiapan apabila pembelajaran tatap muka dibuka kembali. Persiapan ini meliputi sistem pembelajaran hingga penyediaan fasilitas kesehatan.

"Kami sudah punya cucian tangan tiap masuk ada lima, kemudian per lantai per gedung, kita kan lantai lima ya, setiap lantai ada 7 lantai 3 juga ada. Kemudian hand sanitizer kami sudah siapkan itu," jelasnya.

Namun, ia memaklumi apabila pemerintah masih menimbang-nimbang untuk membuka pembelajaran tatap muka. Yang jelas, sebut Mufrodah, kesehatan peserta didik tetap yang utama.

"Jelas itu sih (kangen tatap muka). Karena kita biasa tatap muka setiap hari kemudian ini kok nggak tatap muka," imbuhnya

"kalau menurut saya lihat situasi kondisi dulu karena tidak semuanya anak-anak itu, misalnya dia sehat tapi kalau dia bergaul dengan teman-teman lain takutnya kena. Jadi lihat sikon dulu semuanya. Kalau semuanya sudah dinyatakan nggak ada COVID, insyaallah saya juga nggak apa-apa anak-anak masuk," lanjutnya.

Sebelumnya, sebanyak 5 juta tenaga pendidik terdiri atas guru hingga dosen ditargetkan mendapat vaksinasi COVID-19 tahap kedua. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyampaikan vaksinasi golongan ini dimulai dari tenaga pendidik di tingkat muda.

"Kami juga telah memutuskan bahwa misalnya sudah ada alokasi vaksin yang akan kami prioritaskan yang jenjang lebih muda dulu. Jadi jenjang SD, PAUD, dan SLB, baru ke SMP, SMA, SMK baru ke perguruan tinggi," kata Nadiem Makarim di SMA 70 Jakarta, Bulungan, Jakarta Selatan, Rabu (24/2/2021).

Nadiem menyoroti kebutuhan interaksi fisik antara tenaga pendidik dan peserta didik berbeda di setiap jenjang pendidikan. Untuk itulah, urutan prioritas ini ditetapkan demi melindungi sivitas pendidikan dari paparan COVID-19.

Nadiem menargetkan vaksinasi bagi 5 juta tenaga pendidik ini rampung pada Juni 2021. Jadi, kegiatan belajar-mengajar (KBM) tatap muka bisa dilakukan saat tahun ajaran baru Juli 2021.

Simak video 'Jokowi: RI Termasuk Negara Pertama di ASEAN yang Mulai Vaksinasi Corona':

[Gambas:Video 20detik]



(dwia/dwia)