Tuntut Pekerjaan, 1.000-an Warga Malang Blokir PT New Minatex

Tuntut Pekerjaan, 1.000-an Warga Malang Blokir PT New Minatex

- detikNews
Senin, 20 Feb 2006 16:05 WIB
Malang - Dianggap tidak memberikan kontribusi terhadap warga, sekitar seribu warga Dusun Polaman, Desa Bedali Lawang, Kabupaten Malang, nekat memblokir pintu gerbang PT New Minatex, pabrik pemintalan benang. Warga juga mendirikan tenda tepat di depan pintu gerbang pabrik. Pemblokiran yang dilakukan warga sejak pagi, Senin (20/2/2006) itu mengakibatkan pabrik yang mempekerjakan ratusan karyawan tersebut tidak dapat beroperasi, karena sebagian karyawan tidak dapt masuk ke dalam pabrik. Kepada wartawan, juru bicara warga, Galih Anggoro mengatakan, warga sekitar pabrik nekat melakukan pemblokiran, karena selama ini pabrik yang berdiri di daerah mereka tidak pernah memberikan kontribusi sedikit pun kepada warga. Karena dari sekitar 500 karyawan yang bekerja di pabrik tersebut, hanya dua orang warga setempat saja yang dipekerjakan. Padahal, banyak warga di sekitar pabrik yang lulusan dari sarjana teknik dan sarjana ekonomi. "Kami menuntut agar pabrik memberikan kompensasi dengan menerima kami sebagai karyawan," ujar dia. Menurut Galih, selama ini keberadaan pabrik tersebut hanya merugikan warga, karena limbah pabrik dibuang ke selokan. Selain itu, pabrik pemintalan benang tersebut telah membuat empat sumur bor tanpa izin warga terlebih dulu. Akibat pembangunan itu, sumur-sumur warga banyak yang kekeringan setiap musim kemarau. Sementara itu, General manager PT New Minatex, Wahjuono S Hartowan, kepada beberapa wartawan mengakui, kalau sebelumnya memang sudah ada kesepakatan antara manajemen pabrik dengan warga sekitar pabrik untuk lebih memprioritaskan warga sebagai karyawan. "Kita sudah pernah mengadakan tes masuk karyawan kepada 52 warga. Namun, yang lolos pada tes itu hanya dua orang. Sedangkan sisanya tidak bisa diterima, karena tidak memenuhi kualifikasi yang ditetapkan pabrik," ujar Wahjuono. Hingga saat ini, ratusan warga masih berkumpul di depan pintu masuk pabrik, dengan mendapat pengamanan ketat dari petugas kepolisian. Mereka tetap mendesak agar manajemen pabrik mau bertemu dan melakukan perundingan dengan warga. (asy/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait