Menkes: Kebiasaan Masyarakat Persulit Penanganan Flu Burung

Menkes: Kebiasaan Masyarakat Persulit Penanganan Flu Burung

- detikNews
Senin, 20 Feb 2006 07:49 WIB
Jakarta - Wabah Flu burung yang kembali mengganas belakangan ini membuat pemerintah melakukan langkah-langkah antisipatif guna mencegah virus ganas ini semakin menyebar. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun telah memanggil lima Gubernur terkait dengan persoalan flu Burung ini.Kelima Gubernur tersebut dipanggil karena di lima daerah itu, kasus flu burung paling banyak ditemukan. Kelima Gubernur tersebut yakni, Gubernur Jawa Barat, Gubernur DKI Jakarta, Gubernur Lampung, Gubernur Banten dan Gubernur Jawa Tengah. Mereka menemui presiden pada 15 Februari lalu.Pemerintah DKI Jakarta selaku daerah yang menempati urutan pertama jumlah kasus pasien flu burung pun merencanakan akan melakukan sweeping terhadap unggas di rumah-rumah penduduk pada Jumat 24 Februari mendatang.Sementara itu, Menkes Siti Fadillah Supari berharap sweeping yang dilakukan Pemprov DKI mampu mencegah penyebaran virus Flu Burung ini."Mudah-mudahan dengan sweeping akan berhasil. Dan ini usulan kita," ujarnya saat dihubungi detikcom Minggu (19/2/2006). Namun hal yang menyulitkan menurutnya, karena kebiasaan masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa dekat dengan unggas dan memeliharanya, sehingga saat ini manusia masih terncam flu burung. "Itu behaviour sudah kebiasaan kita. Setidaknya di sweeping masyarakat bisa mengubah dalam behaviour," tandasnya.Selain saran melakukan sweeping terhadap unggas-unggas di perumahan, Menkes juga menghimbau kepada masyarakat untuk menjauhi unggas baik yang sakit atau pun tidak. Karena selama unggas masih banyak berkeliaran manusia masih terancam flu burung."Jauhilah unggas sakit atau tidak. Sebaiknya unggas itu dikurung atau dimusnahkan," pinta Menkes.Hal tersebut dilakukan untuk memutus mata rantai unggas dengan manusia dan tidak ada kontak dengan mereka. "Flu burung tidak menyebar melalui unggas yang sakit saja, tapi yang sehat juga," tuturnya.Dia menjelaskan saat ini ada fenomena khas yang terjadi dalam kasus flu burung, sehingga pemerintah melakukan langkah-langkah antisipatif. "Unggas yang mati akibat flu burung mengecil, tapi terhadap manusia meningkat," imbuhnya.Pemerintah juga menjamin saat ini stok persediaan tamiflu masih mencukupi untuk menghadapi bahaya flu burung. "Mei nanti kita akan memproduksi sendiri," tandasnya. (ndr/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait