Fenomena Cluster Flu Burung di Indonesia Istimewa
Minggu, 19 Feb 2006 00:45 WIB
Banten - Fenomena cluster flu burung di Indonesia dipandang istimewa dibanding negara lainnya. Hal ini dikarenakan bentuk clusternya adalah keluarga.Hal ini disampaikan staf ahli Menko Kesra Emil Agustiono dalam acara Komunikasi Program Kerja Kesra di Anyer, Sabtu (18/2/2006). Menurutnya, cluster merupakan fenomena gunung es yang harus dikaji lebih lanjut."Di Indonesia dari 28 kasus ada 5 cluster. Sementara di Vietnam dari 93 kasus, clusternya ada 4. Dan di Thailand dari 22 kasus, ada 2 cluster," ujar Emil.Menurutnya, sejak Juli 2005 terdapat 5 cluster keluarga korban flu burung. Dengan jumlah kasus tiap keluarga yang bervariasi antar 2 dan 4 orang.Kelima cluster itu adalah keluarga Iwan Iswara di Tangerang, Keluarga Rini-Dina di Bintaro, keluarga Hendriansyah di Tanjung Karang, Keluarga Ina Solati di Tangerang, dan keluarga Nurochmah di Indramayu.Emil menjelaskan, walaupun ditemukan banyak fenimena cluster, bukan berarti virus flu burung telah bermutasi hingga penularannya dari manusia ke manusia. "Terjadi demikian karena daya tahan dan genetik yang lemah terhadap virus H5N1. Jadi sedikit banyak unsur genetik banyak berpengaruh," imbuhnya. Mengenai adanya wacana bahwa virus flu burung bisa diobati dengan buah merah dan kunyit putih, menurut Emil hal tersebut harus dikaji lebih lanjut. "Saat ini obat yang bisa diberikan untuk orang yang diduga terkena virus adalah tamiflu. Tapi pemakaian tamiflu ada juga efek negatifnya seperti mual, sakit kepala, gangguan kejiwaan, dan halusinasi," tandasnya.Menurut Emil, tamiflu bila dikonsumsi selama 5 hari berturut-turut akan memberikan daya lindung selama 6 minggu. Namun jumlah tamiflu yang tersedia jauh dari cukup.Hingga saat ini, lanjutnya, baru ada 75 ribu kotak tamiflu, yang tiap kotaknya berisi 10 kapsul. "Pada Juni 2006 akan ada tambahan sebanyak 40 ribu kotak," imbuhnya.Selain itu, Emil menjelaskan, pada saat pandemi, jumlah kasus penderita akan meninggkat. Namun tingkat kematiannya akan lebih kecil. Sedangkan pembuatan vaksin virus flu burung hanya efektif dibuat pada saat endemi."Karena pada saat pandemi, virusnya kemungkinan susah bermutasi," jelasnya.
(ary/)











































