Jelang Vonis Neloe, Gus Dur Minta Hakim Adil
Sabtu, 18 Feb 2006 21:00 WIB
Jakarta - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan yang menyidangkan kasus korupsi Bank Mandiri dengan terdakwa ECW Neloe diminta adil dalam membuat vonis. Permintaan itu disampaikan langsung oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid."Saya bicara pada hakim-hakim agar adil dan sportif. Saya tidak ada tujuan gini gitu, ya saya beberkan semuanya biar sportif lah," kata Gus Dur dalam jumpa pers mengenai diskriminasi dalam pemberantasan korupsi, di kantor PBNU Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Sabtu(18/2/2006).Seperti diketahui pada Senin 20 Februari mendatang, majelis hakim PN Jakarta Selatan akan membacakan vonis terhadap Neloe. Sebelumnya oleh jaksa, Neloe dituntut pidana 20 tahun penjara. Ketua Dewan Syuro PKB ini pun tidak mau ambil pusing dengan agenda tersembunyi dibalik penahanan Neloe oleh pengadilan. "Yang jelas sistem pengadilan kita lagi somplak-somplaknya. Maka itu saya bikin pernyataan itu ingin mengingatkan. Kita punya tanggung jawab kepada masa depan bangsa ini. Apalagi dari sudut ekonomi," ungkapnya.Namun ketika ditanya apakah Neloe punya kesalahan ? Menurut Gus Dur, Neloe selaku manusia Neloe tidak lepas dari kesalahan. "Biasa saja, kalau namanya orang dicari-cari, ya ada," ungkapnya.Gus Dur menjelaskan restrukturisasi Bank Mandiri dilakukan pada masa dirinya menjabat sebagai Presiden. Saat itu Dia memanggil Neloe karena tahu integritas dan kapabilitas Neloe sebagai bankir yang sudah mengabdi kepada negara lebih dari 30 tahun."Saya tahu dia sejak lama sekali. Dia itu orang yang loyal," tandas Gus Dur dalam keterangan pers yang dibacakan tersebut.Gus Dur menjelaskan, Neloe ditugaskan secara khusus untuk membangun Bank Mandiri yang saat itu dalam proses integrasi 4 bank pemerintah yang masing-masing memiliki karakter tersendiri. Menurut Gus Dur, penugasan tersebut sebagai mission impossible dimana kondisi politik dan ekonomi saat itu belum kondusif."Penugasan saya pada saudara Neloe untuk membangun Bank Mandiri guna menyelematkan perekonomian nasional. Bukan sekedar memimpin bank untuk memperoleh keuntungan bagi banknya semata," jelas Gus Dur.
(ary/)











































