Gus Dur Pertanyakan Kesungguhan GAM Berdamai
Sabtu, 18 Feb 2006 18:59 WIB
Jakarta - Mantan Presiden Gus Dur terang-terangan mengaku curiga dengan GAM. Sejumlah kegiatan yang dilakukan GAM akhir-akhir ini dinilainya di luar batas. Niat GAM berdamai pun dipertanyakan Gus Dur."Saya sendiri terus terang saja mempertanyakan kesungguhan niat daripada orang GAM. Sekarang ini GAM sudah mengimpor sendiri Proton (mobil) dari Malaysia. Belum jadi negara sudah bersikap seperti negara. Negara berdaulat bagaimana? Saya tambah curiga," cetus Gus Dur.Gus Dur mengungkapkan hal itu dalam jumpa pers mengenai "Diskriminasi dalam Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi" di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (18/2/2006).Karena itu, imbuh Gus Dur, dia telah mewanti-wanti Fraksi Persatuan Bangsa (FKB) di DPR agar hati-hati dalam pembahasan RUU Pemerintahan Aceh, dan tetap mempertahankan sikapnya selama ini."Laporan dari FKB bahwa RUU soal Aceh sedang dibicarakan, sedang dipersiapkan. Saya hanya ingin mengingatkan para anggota DPR dari FKB, mereka teringat dengan keputusan selama ini, tidak mau menerima kemerdekaan Aceh," kata Gus Dur. Karena itu, lanjutnya, segala kemungkinan untuk memerdekan Aceh harus dihilangkan. "Ini perjuangan kita. Berhasil tidaknya kita lihat nanti," tandas dia.FKB DPR diminta Gus Dur tidak terlalu terpaku pada batas waktu pembahasan RUU yang harus diselesaikan hingga akhir Maret nanti."Kita mendirikan negara dengan susah payah, kalau Aceh bakal bobol, wah wah wah, 7 provinsi lain akan ikut. Saya tahu kok," katanya.Tujuh provinsi itu, imbuh Gus Dur, sudah membicarakan kemungkinan tersebut dengannya. Karena itu ia minta pemerintah lebih berhati-hati."Sebab lebih jauh dari itu yang kedengaran saya, di kalangan GAM ada semacam perasaan GAM hayu tipu-tipuan lah, mana yang lebih hebat tipuannya, orang Aceh atau Bugis, ciloko kalau sudah begitu," katanya."Di mana kesatuan kita sebagai suatu bangsa, kita harus sama. GAM itu begitu kemungkinan ini kita halangi . Terbuka begini. Biar orang tahu masalahnya," tambah Gus Dur.
(umi/)











































