Budayawan Ayatrohaedi Tutup Usia
Sabtu, 18 Feb 2006 15:06 WIB
Jakarta - Budayawan, sastrawan, linguis, sekaligus arkeolog Indonesia, Ayatrohaedi(67) tutup usia, Sabtu (18/2/2006) pukul 11.30 WIB di Sukabumi, JawaBarat. Tokoh yang akrab dipanggil Mang Ayat ini beberapa bulan terakhirini memang dikabarkan sakit.Bahkan selama beberapa hari sempat dirawat di RS Cikini Jakarta. Rencananya jenazah akan disemayamkan ke rumah duka di Jalan Kalimantan, Depok Utara sore ini.Menurut salah seorang putrinya, Diah, jenazah akan dimakamkan Minggu (19/2/2006) selepas salat Dhuhur. Mang Ayat meninggalkan seorang istri, tiga orang anak, dan dua orang cucu.Lahir di Jatiwangi, Majalengka pada 5 Desember 1939, Ayatrohaedi dikenalsebagai seorang sastrawan Indonesia yang banyak menghasilkan karya dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda.Mang Ayat adalah lulusan Fakultas Sastra tahun 1959, Jurusan IlmuPurbakala dan Sejarah Kuna Indonesia (sekarang Arkeologi). Setelah lulustahun 1964, ia bekerja di Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional diMojokerto.Pernah menjadi pengajar di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Bandungselama lima tahun, kemudian tahun 1972 kembali ke Fakultas Sastra UI.Pada tahun 1978 Mang Ayat meraih gelar doktor dari UI dengan mengajukan disertasi berjudul Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa.Menurut promotornya Prof Dr Amran Halim, disertasi ini merupakan disertasipertama mengenai dialektologi di Asia Tenggara.Adik sastrawan dan pemerhati kebudayaan sunda, Ajip Rosidi, ini juga pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Arkeologi (1983-1987), Pembantu Dekan Bidang Akademik (1999-2000), dan Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta (IKJ) selama lima tahun (1989-1994). Ayatrohaedi juga banyak terlibat dalam kegiatan di bidang kebahasaan, kesusastraan, kesejarahan, kebudayaan dan kepurbakalaan.Ayatrohaedi mulai menulis karya sastra (puisi, prosa) dalam bahasa sunda tahun 1955 dan dalam bahasa Indonesia 1956. Hingga saat ini karyanya yang telah terbit antara lain Hujan Munggaran (1960), Kabogoh Tere (1967), Pamapag (1972). Karyanya dalam bahasa Indonesia antara lain Panji Segala Raja (1974), Pabila dan di mana (1976), Senandung Ombak (terjemahan, 1976), dan Kacamata Sang Singa (terjemahan, 1977).Karya non-fiksi antara lain Bahasa Sunda di Daerah Cirebon: Sebuah Kajian Lokabasa (disertasi 1978, diterbitkan 1985), Dialektologi: Sebuah Pengantar (1979, 1981), Tatabahasa Sunda (terjemahan karya DK Ardiwinata, 1985), Tatabahasa dan Ungkapan Bahasa Sunda (terjemahan karya J Kats dan R Suriadiraja, 1986).
(umi/)











































