TNI Boleh Memilih Tapi Tak Bisa Dipilih
Jumat, 17 Feb 2006 19:01 WIB
Jakarta - Wacana TNI ikut pemilihan umum (Pemilu) kembali muncul. Ada pandangan yang menyatakan, TNI boleh memilih tapi tak boleh mempunyai hak untuk dipilih. Adilkah?Pandangan itu disampaikan pengamat militer dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Edi Prasetyono. "Perang saja dapat dilakukan oleh TNI, apalagi sekedar memilih dalam Pemilu," katanya ditemui wartawan seusai menghadiri pemakaman Letjen Purnawirawan Hasnan Habib di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta, Jumat (17/2/2006).Di banyak negara modern, kata Edi, militer diberikan hak untuk memilih. "Itu sebagai ekspresi dari hak warga negara," urainya.Di mencontohkan di Kanada sejak tahun 1919 anggota tentaranya sudah boleh memilih. "Di Amerika juga boleh," ucapnya.Akan tetapi untuk hak dipilih dalam Pemilu, kata Edi, tidak boleh dimiliki oleh TNI. "Karena kalau dia mempunyai hak untuk dipilih maka petanyaannya adalah, dia dipilih mewakili siapa," tanya Edi.Namun begitu persoalan TNI dapat memilih dalam Pemilu bukan persoalan TNI, tapi persoalan otoritas politik dalam hal ini eksekutif dan legislatif yang menyiapkan perangkat-perangkat dan aturan-aturan mainnya.Aturan main itu contohnya seperti jangan sampai nanti TPS-TPS itu nanti berada di barak-barak militer. "TPS-nya harus menyebar di pemukiman terdekat, sehingga tidak diketahui barak ini ternyata pro si A, pro partai ini," cetusnya. Kemudian, pemilihan juga harus dilakukan di hari libur.Selain itu, Edi berharap, otoritas politik seharusnya mengkaitkan isu hak pilih ini dengan agenda reformasi TNI, misalnya soal bisnis TNI. Sehingga dengan kesejahteraan yang lebih baik, prajurit dapat memilih bukan berdasarkan preferensi keuangan semata.Pandangan yang kurang lebih sama, diungkapkan Mantan Pangkostrad Letjen (Purn) Kemal Idris. "Mengapa kita tidak boleh memilih?," tanya Kemal Idris."Kita juga rakyat. Kita bagian dari rakyat. Kita punya hak sebagai warga negara," ujar pensiunan jendral berusia 83 tahun ini ketika ditemui di tempat yang sama.Dia menilai TNI ikut memilih tidak perlu dipersoalkan. "Pemilu 55 saya ikut memilih. Kok sekarang dimasalahkan lagi?," ujar Kemal yang juga ketua umum Barisan Nasional dan datang ke pemakaman dengan berkursi roda.
(mar/)











































