Sarie Febriane Jadi Akrab dengan Dedengkot Moge
Kamis, 16 Feb 2006 15:15 WIB
Jakarta - Masih ingat kan dengan Sarie Febriane? Dia adalah perempuan yang memosting kampanye antiarogansi motor besar (moge) lewat milis. Kampanye Sarie banyak didukung. Apa kabar Sarie sekarang? Oh rupanya Sarie kini malah akrab dengan para pemilik moge! Perempuan cantik 29 tahun ini juga banyak dicari orang media untuk wawancara. Kamis (16/2/2006) pagi tadi misalnya, dia on air di Radio Ramako FM membahas masalah moge. Narasumber talkshow itu juga berasal dari kalangan biker moge.Kampanye Sarie berawal dari pengalaman menjengkelkan saat berhadapan dengan moge, 5 Februari, ibu muda itu dipaksa minggir agar rombongan moge bisa lewat. Karena menolak, spion mobil Sarie digampar seorang biker (sebutan bagi pengendara moge). Apa sih yang diinginkan Sarie sehingga menggalang kampanye antiarogansi moge? Berikut petikan wawancara detikcom dengan Sarie Febriane, Kamis (15/2/2006): Ceritanya bagaimana awal menulis kampanye antiarogansi moge itu?Saya sebenarnya mau curhat. Namanya curhat tentunya bahasanya emosional. Soal ada bagian aku singgung kejantanan laki-laki itu, sebenarnya aku tidak bermaksud menghina orang laki-laki. Aku cuma ingin mengubah konstruksi yang salah bahwa jantan itu diukur dengan atribut yang dipakai. Kalau jantan jangan seperti itu, pakai gebrak-gebrak untuk memaksa orang lain. Di Barat kan yang disebut gentleman itu justru lembut. Sebelum kasus 5 Februari, apa pernah mengalami peristiwa menjengkelkan serupa?Tidak sih. Saya hanya sering lihat HD beberapa kali lewat. Tapi tak pernah bersinggungan langsung. Cuma ngelihatnya kok gimana ya. Kok gitu ya, dikawal polisi, pakai sirine. Yang kemarin itu saya benar-benar geram karena mobil saya kan sampai digampar. Bagaimana setelah curhat Sarie bergulir jadi gerakan anti moge, apakah kehidupan Sarie jadi terganggu? Kalau disebut terganggu, itu kok naif ya, itu kan sudah konsekuensi. Saya tidak mengira akan mendapat sambutan luar biasa seperti itu. Yang saya tulis itu bukan hanya masalah Sarie dengan HD, ini masalah semua orang pengguna jalan. Saya ingin masalah lalu lintas jadi concern semua orang. Apakah ada ancaman setelah kasus itu mencuat?Tidak. Tidak ada ancaman sama sekali. Orang-orang moge memang sering telepon dan SMS ke saya. Tapi itu bukan ancaman, kita malah jadi diskusi dan curhat. Pak Fikar (Zulfikar Alamsyah, yang mewakili anggota HD membalas kampanye antiarogansi moge Sarie-red) misalnya malah cerita kalau dia jadi bingung karena e-mailnya justru banyak dikecam. Letjen Suyono yang dedengkot HD itu juga tadi lewat talkshow di Radio Ramako sempat ngomong. Dia minta maaf. Saya bilang saya tak menuntut minta maaf karena maaf itu hanya akan dangkal. Seolah setelah minta maaf seolah kasus sudah selesai dan ditutup. Saya sekarang justru khawatir kalau para moge jadi saling bertengkar dan melakukan kekerasan pada orang yang melakukan kekerasan pada saya. Banyak balasan email yang Sarie terima atas kampanye anti arogansi moge itu?Banyak sekali balasan. Ratusan lebih kali ya. Saya pernah pulang sampai malam pukul 00.00 WIB karena komit membalas satu per satu e-mail yang masuk. Sekarang sih saya tidak membalas satu per satu. Semoga pada mengertilah, aku belum sempat ngebales. Apa harapan Sarie tentang pemakaian jalan ke depan?Saya berhadap orang yang pakai jalan jadi lebih beradab. Katanya bangsa kita ini kan memiliki budaya luhur, tapi kok budaya itu tak terlihat di jalan. Padahal potret budaya masyarakat dilihat di jalan. Saya lihat secara umum ada yang salah dengan pengguna jalan. Ini yang harus dibenahi. Etika dan tertib berlalu lintas kita sangat buruk. Soal main klakson, misalnya, seringnya main klakson saja. Nggak mikir di sekitar situ ada gereja atau masjid sedang berdoa.
(iy/)











































