Sidang Kasus Gus Nur

Ahli Bahasa Sebut Gus Nur Lakukan Penghinaan: Dia Labelisasi Negatif NU

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 15:21 WIB
Sidang kasus Gus Nur di PN Jaksel, Selasa (23/2/2021).
Sidang kasus Gus Nur di PN Jaksel, Selasa (23/2/2021). (dok detikcom)
Jakarta -

Jaksa penuntut umum menghadirkan ahli bahasa UPI Bandung, Andika Dutha Bachari, dalam sidang Sugi Nur Raharja alias Gus Nur. Ahli menyebut ada labelisasi negatif terhadap Nahdlatul Ulama (NU) dalam video Gus Nur.

"Ada penghinaan karena ada labelisasi negatif. Dia (Gus Nur) sudah melabelisasi negatif NU dengan bus yang oleng, itu kan tidak bermakna positif, secara denotatif tidak bermakna positif. Tapi menunjukkan ada yang rusak apalagi kalau dibuka percakapan sebelumnya ada komparasi yang menunjukkan dulu NU tidak begini, jadi ada batas permulaan yang dia jabarkan dulu NU ideal sekarang akhirnya rusak," ujar Andika dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Jalan Ampera Raya, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Diakses dari situs UPI, Andika memiliki keahlian linguistik forensik.

"Itu komparasi yang sifatnya subjektif karena alat ukur untuk menunjukkan NU dulu tidak begini itu tidak ada, jadi dalam orang berkomunikasi ada intensi atau maksud untuk mempermalukan, menjatuhkan golongan NU," jelasnya.

Andika menyebut ada unsur kesengajaan Gus Nur untuk mendapatkan atensi lewat videonya yang diduga mengandung ujaran kebencian kepada NU.

"Dalam konteks Terdakwa, dalam sebuah channel YouTube, terjadi dalam dunia digital sekarang itu sebagai aktivitas bisnis. Ini bukan tindakan yang bukan tanpa setting-an, dia betul-betul diinsafi apa yang dikatakan itu ingin tersebar," katanya.

Andika kemudian menjelaskan adanya labelisasi negatif terhadap NU. Hal itulah yang menyebabkan adanya unsur penghinaan.

"Nah, dalam posting-an Terdakwa saya menemukan adanya labelisasi negatif. Labelisasi negatif terhadap golongan tertentu yang dalam hal ini disebutkan jelas pula oleh Terdakwa itu Nahdlatul Ulama, NU ya," ujar Andika.

Andika pun menemukan 2 bentuk penghinaan dalam video Gus Nur. Dia menggarisbawahi soal adanya komparasi NU dulu dan sekarang serta analogi NU seperti bus yang oleng.

"Ada berapa kalimat (penghinaan)?" tanya hakim Toto Ridarto.

"Yang saya garis bawahi 2 kalimat, dulu NU seperti itu dan ketika dia menganalogi NU seperti bus yang oleng," jawab Andika.

Dalam sidang ini, Gus Nur hadir secara virtual. Penasihat hukum Gus Nur memutuskan walk out (WO) dan tidak hadir saat sidang berlangsung.

Diketahui, Gus Nur didakwa sengaja melakukan ujaran kebencian terhadap NU. Pernyataan ini diunggah oleh Gus Nur dalam akun YouTube miliknya saat melakukan pembicaraan dengan Refly Harun.

Atas perbuatannya, Gus Nur didakwa Pasal 45A ayat (2) juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Serta Pasal 45 ayat (3) juncto Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.


Apa penjelasan Gus Nur soal ujaran yang diduga menghina NU? Simak di halaman berikutnya...

Selanjutnya
Halaman
1 2