Baca Pleidoi, Irjen Napoleon Klaim Tak Ada Bukti Terima Suap Djoko Tjandra

Luqman Nurhadi Arunanta - detikNews
Senin, 22 Feb 2021 14:53 WIB
Irjen Napoleon Bonaparte
Irjen Napoleon Bonaparte saat membacakan nota pembelaan terkait kasus suap dari Djoko Tjandra (Luqman Nurhadi Arunanta/detikcom)
Jakarta -

Terdakwa perkara suap dari Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra, Irjen Napoleon Bonaparte, mengklaim dirinya sebagai korban kriminalisasi. Napoleon mengatakan tidak ada bukti yang menunjukkan adanya penerimaan uang atau janji padanya.

"Kami telah menjadi korban dari kriminalisasi melalui media sosial yang memicu malpraktik dalam penegakan hukum berupa masifnya pergunjingan publik akibat sinisme terhadap kekuasaan yang telah menggeneralisir setiap simbolnya sebagai pelampiasan hasrat gibah sehingga memicu malpraktik dalam penegakan hukum atas nama mempertahankan keluhuran marwah institusi," ujar Napoleon saat membacakan nota pembelaan atau pleidoi dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (22/2/2021).

Napoleon menyatakan tidak ada alat bukti yang membuktikan penerimaan uang atau janji terkait kasus red notice Djoko Tjandra. Menurutnya, hal itu terbukti dari tidak adanya uang yang disita darinya.

"Tidak ada alat bukti petunjuk yang memiliki pembuktian terkait peristiwa pemberian hadiah uang atau janji oleh kami dalam perkara ini. antara lain, tidak ada bukti berupa uang yang disita dari saya. Kedua, tidak ada barang bukti berupa CCTV yang berkesesuaian yang menunjukkan perbuatan kami menerima janji atau uang dari Tommy Sumardi," ujar Napoleon.

"Ketiga, tidak ada bukti komunikasi elektronik yang dikuatkan ahli forensik yang berkesesuaian dengan perbuatan kami menerima hadiah atau janji dari Tommy Sumardi. Tidak ada bukti peristiwa atau rangkaian peristiwa yang berkesesuaian dengan perbuatan menerima uang atau janji," tambahnya.

Napoleon juga menyebut kesimpulan jaksa yang menyebut dirinya memberi keuntungan bagi Djoko Tjandra sebagai kesimpulan yang tidak berdasarkan analisis hukum yang relevan. Sebab, tidak ada penerimaan uang atau janji yang menggerakkan niat itu.

"Kesimpulan JPU bahwa kami terbukti memiliki niat ingin memberi keuntungan kepada Joko Soegiarto Tjandra adalah kesimpulan yang tidak berdasarkan analisa hukum yang relevan sehingga tidak dapat membuktikan niat itu ada, dengan alasan, satu, tidak terbuktinya unsur menerima pemberian uang atau janji sehingga tidak ada unsur menggerakkan niat kami menguntungkan Joko Soegiarto Tjandra," ujarnya.

Napoleon juga menyebut tidak ada perintah darinya untuk meminta Imigrasi menghapus status DPO atas nama Joko Soegiarto Tjandra. Menurutnya, penghapusan nama Djoko Tjandra merupakan tanggung jawab Dirjen Imigrasi dan tidak ada hubungannya dengan dia.

"Tidak ada satu kata dalam ketiga surat tersebut, yang baik tersirat mauput tersurat, meminta Imigrasi untuk menghapus DPO atas nama Joko Soegiarto Tjandra pada sistem ECS," ungkap Napoleon.

"Bahwa penghapusan nama Joko Soegiarto Tjandra pada ECS pada SIMKIM adalah keputusan Dirjen Imigrasi secara sepihak sehingga tanggung jawab Dirjen Imigrasi sendiri yang tidak bisa dikaitkan dengan kami, Kadivhubinter Polri. Apabila Joko Soegiarto Tjandra mendapat keuntungan dari penghapusan namanya pada SIMKIM maka sebenarnya Dirjen Imigrasi lah yang telah memberikan keuntungan pada Joko Soegiarto Tjandra," tambahnya.

Atas uraiannya itu, Napoleon menilai tuntutan jaksa tidak dapat dipenuhi terhadap dirinya sebagai terdakwa. "Setelah kami menguraikan nota pembela ini kami berpendapat bahwa syarat objektif dan syarat subjektif pemidanaan sebagaimana isi surat tuntutan JPU tidak dapat dipenuhi pada diri kami sebagai terdakwa," ungkapnya.

Di akhir pleidoinya, Napoleon meminta majelis hakim menerima seluruh isi nota pembelaannya dan menolak seluruh isi surat dakwaan serta tuntutan JPU. Napoleon juga menyebut kasus yang menimpanya ini telah merendahkan martabat keluarganya.

"Selama 32 tahun pengabdian kepada negara sudah saya jalani tanpa cacat sedikit pun. Saya selalu berupaya menjadi tauladan bagi keluarga dan rekan-rekan saya sesama polisi untuk bersahaja dan tidak bermewah-mewahan karena saya memang tidak punya dan tidak layak melakukannya. Belum tentu yang menggerakkan semua ini adalah orang yang lebih baik dari saya sebagai polisi. Bagi saya, permasalahan ini sangat merendahkan martabat keluarga," tutupnya.

Diketahui, Irjen Napoleon dituntut 3 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan. Jaksa menyebut Irjen Napoleon terbukti bersalah terima suap dalam upaya penghapusan nama Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra di red notice.

Jaksa meyakini Napoleon terbukti menerima SGD 200 ribu dan USD 370 ribu dari Djoko Tjandra. Jaksa menyebut perbuatan Napoleon salah karena sebagai polisi tidak menangkap Djoko Tjandra saat menjadi buron kasus hak tagih (cessie) Bank Bali.

Atas dasar itu, Napoleon diyakini jaksa melanggar Pasal 5 ayat 2 juncto Pasal 5 ayat 1 huruf a atau b UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Simak video 'Pengacara Irjen Napoleon: Kalau Berani, Jaksa Tuntut Bebas Dong!':

[Gambas:Video 20detik]



(run/dhn)