Komisi IX DPR Minta Pemerintah Libatkan Gen Z Kampanye Vaksinasi Corona

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Senin, 22 Feb 2021 13:01 WIB
Vaksinasi Pemkot Surabaya
Ilustrasi Vaksinasi (Esti Widiyana/detikcom)
Jakarta -

Lembaga survei Indikator Politik merilis hasil kajian kalau generasi Z (gen Z) atau anak-anak muda kelahiran 1996-2015 banyak yang tak bersedia divaksinasi COVID-19. Komisi IX DPR RI mendorong pemerintah memperkuat edukasi dan komunikasi vaksinasi Corona ke anak muda.

"Butuh edukasi dan komunikasi lebih kuat lagi oleh Kemenkes dan Satgas Penanganan COVID di pusat dan daerah bekerja sama dengan penggerak anak-anak muda generasi Z di pusat dan daerah," kata Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena kepada wartawan, Senin (22/2/2021).

Melki, sapaan akrab Melkiades, berharap kerja sama antara pemerintah dan penggerak anak muda di daerah maupun pusat dapat meningkatkan pemahaman vaksinasi di kalangan gen Z.

"Untuk membuat masyarakat, khususnya kalangan generasi Z, lebih paham pentingnya vaksin dan vaksinasi dalam pencegahan dan penanganan COVID di Tanah Air," ujarnya.

Lebih lanjut, Melki mencontohkan Presiden Jokowi yang melibatkan artis Raffi Ahmad saat disuntik vaksin Corona. Politikus Golkar itu berharap ada perwakilan gen Z yang juga diikutsertakan terkait kampanye vaksinasi Corona.

Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris juga mendorong agar pemerintah memperkuat sosialisasi publik terkait vaksinasi. Terlebih kepada gen Z yang aktif dan memiliki mobilitas tinggi.

"Pemerintah harus memperkuat narasi dan sosialisasi kepada publik terkait pentingnya melakukan vaksinasi. Khususnya ke generasi Z yang seperti kita ketahui merupakan golongan usia muda yang aktif dan memiliki mobilitas tinggi," ujar Charles.

Politikus PDI Perjuangan (PDIP) itu mengatakan di sejumlah negara anak muda kerap menjadi carrier COVID-19. Ia pun berharap semua pihak ikut terlibat menyukseskan program vaksinasi Corona.

"Kasus di berbagai negara menunjukkan bahwa anak-anak muda kalaupun tidak menunjukkan ada gejala klinis, mereka tetapi menjadi carrier dan super spreader di tengah masyarakat. Oleh karena itu, vaksinasi terhadap anak-anak muda penting dilakukan," kata Charles.

"Bagi saya mensukseskan program vaksinasi COVID-19 bukan tugas pemerintah saja. Tetapi ini sudah menjadi tugas kita bersama sebagai bagian dari bangsa ini untuk bergotong-royong membawa Indonesia keluar dari pandemi COVID-19," ucapnya.

Diketahui, lewat survei Indikator Politik, gen Z yang 'dibesarkan langsung' oleh teknologi ini ternyata cenderung banyak yang tidak bersedia divaksinasi. Bahkan angka gen Z yang tidak mau divaksinasi cenderung lebih besar ketimbang generasi di atasnya, termasuk generasi milenial yang menjadi kakaknya.

Berikut ini hasil survei yang memuat data soal generasi Z, yakni generasi berumur kurang dari 21 tahun dan berumur 22-25 tahun:

1. Kesediaan divaksin
< 21 tahun
Bersedia: 54,5%
Tidak bersedia: 45,5%
Tidak tahu/tidak menjawab: 0%

22-25 tahun
Bersedia: 45,1%
Tidak bersedia: 43,9%
Tidak tahu/tidak menjawab: 10,9

26-40 tahun
Bersedia: 55,9%
Tidak bersedia: 40,4%
Tidak tahu/tidak menjawab: 3,8%

41-55 tahun
Bersedia: 53,6%
Tidak bersedia: 42,6%
Tidak tahu/tidak menjawab: 3,7%

> 55 tahun
Bersedia: 61,0%
Tidak bersedia: 34,1%
Tidak tahu/tidak menjawab: 4,9%

2. Bersedia membayar vaksin? (Pertanyaan khusus untuk yang bersedia divaksin)

< 21 tahun
Bersedia: 23,7%
Tidak bersedia: 63,4%
Tidak tahu/tidak menjawab: 12,9%

22-25 tahun
Bersedia: 25,1%
Tidak bersedia: 74,9%
Tidak tahu/tidak menjawab: 0%

26-40 tahun
Bersedia: 23,7%
Tidak bersedia: 68,7%
Tidak tahu/tidak menjawab: 7,6%

41-55 tahun
Bersedia: 21%
Tidak bersedia: 75,2%
Tidak tahu/tidak menjawab: 3,8%

> 55 tahun
Bersedia: 26,6%
Tidak bersedia: 67,9%
Tidak tahu/tidak menjawab: 5,4%

(hel/gbr)