Awas! Arogansi Moge Bisa Menuai Pelemparan Batu
Rabu, 15 Feb 2006 11:49 WIB
Jakarta - Menabur arogansi, menuai badai pelemparan batu. Itulah wanti-wanti untuk para pengendara motor gede alias moge. Jadi, jangan tunggu kekesalan masyarakat memuncak!Untuk itu, kegiatan moge dan sikap para pengendaranya yang minim etika itu harus segera ditertibkan. Karena moge memiliki organisasi, maka yang bertanggung jawab untuk menertibkan kegiatan itu adalah ketua organisasi."Apabila tidak ditertibkan, kekesalan masyarakat akan memuncak. Sehingga pada suatu saat, begitu melihat moge, masyarakat tidak segan untuk melempari batu, atau memprotes secara frontal," ujar Sosiolog UI Paulus Wirutomo saat dihubungi detikcom, Rabu (15/2/2006).Menurut dia, melakukan hobi bukanlah suatu masalah, asalkan tidak mengganggu orang lain. Kalaupun para pengendara moge ingin bermotor di jalan, sebaiknya menggunakan jalan yang sepi dan tidak pada jam sibuk."Kalau mereka bermotor di jalan pada saat jam sibuk, itu namanya tidak tahu diri. Banyak alternatif untuk menjalankan hobinya," cetus Paulus.Menurut Paulus, moge di Indonesia dan luar negeri punya kesamaan. "Mereka sama-sama dianggap arogan oleh masyarakat," katanya.Dia juga menilai arogansi moge di Indonesia merupakan cerminan masyarakat feodal. Sebab anggota klub moge kebanyakan adalah para pejabat dan orang-orang gedean."Ada banyak klub-klub kendaraan, tapi yang dibilang arogan kok cuma moge. Ini mungkin karena yang punya moge itu kebanyakan orang yang punya kedudukan tinggi, terutama di pemerintahan," kata Paulus.Masyarakat menganggap moge arogan karena sering kali menyewa polisi untuk membuka jalan bagi kepentingan mereka. Padahal, lanjut dia, yang seharusnya mendapat perlakuan semacam itu adalah mobil jenazah, ambulans, atau pejabat dalam situasi resmi."Kalau berbicara secara hukum, saya tidak tahu. Tapi kalau bicara soal etika, saya rasa tindakan mereka kurang memikirkan segi ini," tandasnya.
(nvt/)











































