Pak Polisi, Jangan Istimewakan Moge Dong!

Pak Polisi, Jangan Istimewakan Moge Dong!

- detikNews
Selasa, 14 Feb 2006 15:17 WIB
Jakarta - Perlakuan khusus polisi lalu lintas pada rombongan motor besar (moge) sungguh membuat iri. Seringkali konvoi moge malah diberi pengawalan polisi yang meraung-raung dengan sirenenya. Bahkan juga diizinkan lewat jalan tol yang jelas-jelas ada rambu sepeda motor disilang di setiap pintu masuknya."Saya berharap polisi jangan malah ikut-ikutan memberikan perlakuan khusus bagi mereka. Tolong sampaikan juga kepada Kapolri tentang hal ini, jika melanggar tindak mereka juga," pinta pembaca detikcom Dadang Fahmi dalam e-mailnya, Selasa (14/2/2006).Mercy Namsa melihat perseteruan Sarie Febriane dkk dengan rombongan moge, sebenarnya merupakan kisah klasik yang dari dulu tidak pernah terselesaikan. Bukan hanya sekali konvoi moge membuat ulah di jalanan, dari mulai arogansi menggunakan jalan, sampai pemukulan terhadap pengguna jalan lain pernah dilakukan. "Hal ini mungkin tidak terjadi apabila aparat kepolisian mampu bersikap tegas, tapi saya rasa kemungkinannya sulit. Bukankah pemilik moge itu pasti berduit dan biasanya klub-klub moge tersebut berlindung pada seseorang yang memiliki pangkat baik di jajaran pemerintah maupun aparat yang diangkat sebagai pembina klub?" ujar Mercy.Seorang pembaca yang enggan disebut namanya menceritakan, saat berada di pintu Taman Mini hendak keluar jalan tol dan suasananya sedang macet panjang, tiba-tiba terdengar sirene polisi pengawal meraung-raung. Dengan hebatnya polisi itu meminta jalan agar yang dikawal cepat mendapat jalan. "Kalau itu pejabat sangat penting, atau orang sakit saya memaklumi. Tapi ternyata yang dikawal adalah truk pengangkut barang dengan emblem Harley Davidson. Apa sebegitu hebat truk itu bisa dikawal dan minta jalan?"tuturnya. Winarto juga punya pengalaman tidak menyenangkan dengan moge. "Saya pernah mengalami di Padalarang dalam perjalanan dari Bogor ke Bandung. Saat macet , dari arah Puncak sudah 2 lapis dari Bandung 1 lapis , eh rombongan motor besar nyelonong aja ambil jalan yang dari arah Bandung. Kedua rombongan motor besar masuk tol Jagorawi dan zig zag menyuruh mobil minggir. "Kan tol itu untuk mobil, bukan untuk motor!"protes Winarto. "Wapres (Hamzah Haz) saja masuk jalur busway minta maaf, kok motor besar tidak?" cetusnya. Winarto juga mengisahkan, tahun 1970-1980-an di Amerika pengguna motor besar ugal-ugalan sehingga motor besar identik dengan crossboy. Makanya saat motor Jepang (Honda) masuk dan memposisikan diri sebagai kendaraan keluarga dengan iklan wanita, langsung penjualannya naik pesat karena masyarakat Amerika sudah muak dengan para crossboy. "Akibatnya HD hampir bangkrut saat itu. Sekali lagi biar pemilik motor besar itu orang berduit tapi haknya di jalan tetap sama," ujar Winarto.Fotraka menceritakan, sering tiap akhir pekan moge melintas di Kota Cimahi, mereka memasang sirine dan selalu mengambil jalur tengah. Malah garis putih tidak putus-putus (marka jalan) yang artinya batas pemilah kendaraan kiri dan kanan, tidak dihiraukan sama mereka, yang mengakibatkan kendaraan berlawanan arah harus ekstra hati-hati agar tidak tertabrak. "Padahal menurut UU lalu lintas pelanggar marka jalan harus ditilang. Saran saya, moge bisalah leluasa di jalan raya tapi tengah malam atau di pekuburan saja," ujar Fotraka. Bambang Kalbuadi juga menyesalkan moge bisa leluasa masuk tol. "Yang saya heran aparat berwenang yang seharusnya bertindak hanya diam saja melihat aksi mereka. Pasti karena aparat nggak punya nyali buat itu," sesalnya.Reza Syahrial menceritakan, dia pernah naik angkot dari Baranangsiang ke Ciawi, Bogor. Sesampai di pertengahan jalan ada rombongan moge dari arah Ciawi dikawal polisi dengan kecepatan tinggi. Lalu Reza bertanya ke sopir angkot, apakah rombongan itu kena razia polisi karena angkot itu telah melewati razia motor oleh polisi sebelumnya. Sopir angkot dengan kesal menanggapi pertanyaan Reza dan menyatakan bahwa rombongan tadi tidak bakal kena razia. Sopir itu juga mengomel dengan nada kesal. Reza bertanya pada sopir itu mengapa kesal dengan moge. Sopir menjawab karena dia adalah korban pemukulan oleh anggota rombongan moge di Bogor,dan sampai saat itu dia masih ingat wajah orang yang memukulnya dan bila bertemu sendiri dia berjanji akan menabrakkan angkotnya ke moge anggota tersebut."Saya sering sekali melihat aksi pengendara moge (konvoi atau tidak konvoi) seringkali menyebalkan. Tidak menggunakan helm tapi menggunakan 'topi' kulit yang jelas-jelas bukan helm dan melanggar aturan, dan anehnya polisi yang melihat aksi mereka cuma diam dan bersikap tidak melihat," sesal Dias. Sayangnya, upaya detikcom menghubungi pejabat polisi belum gol. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes I Ketut Untung Yoga Ana saat dikontak meminta agar bertanya langsung kepada Dirlantas. Tapi Dirlantas Kombes Djoko Susilo tak juga mengangkat ponselnya. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads