Surat Bijak dari Pengendara Moge
Selasa, 14 Feb 2006 12:47 WIB
Jakarta - Redaksi detikcom, Selasa (14/2/2006) dibanjiri e-mail pembaca yang curhat soal moge. Salah satu e-mail dikirim oleh Putra Ariyavira, seorang pengguna moge. Tulisannya sungguh patut disimak.Berikut ini petikannya:Saya salah satu pengguna moge, tapi saya sangat setuju dan simpati terhadap Bu Sarie dkk. Saya menggunakan moge sebagai alat transportasi sehari-hari dan tidak pernah menggunakan atau ingin menggunakan pengawal untuk convoy, sirine, atau yang lainnya. Ini karena menurut saya apabila seseorang memilih untuk menggunakan moge, maka dia seharusnya sudah bisa menerima konskuensinya, yaitu: 1. Berat (makanya sesuaikan ukuran motor dengan ukuran badan dan tenaga) 2. Panas (ini karena motor besar bermesin lebih besar, dan seharusnya untuk kecepatan konstan yang relatif kencang, bukan kemacetan ala Jakarta. 3. Tidak bisa selap-selip seperti motor kecil, karena ukuran yang relatif besar. 4. Harus menempatkan dirinya sebagai 'pengendara motor', bukan 'pengendara moge'. Nomor 4 inilah yang biasanya dilupakan pengendara motor tipe/merk tertentu. Menurut saya yang namanya motor itu apakah itu scooter, motor bebek, motor sport, atau pun motor cruiser, semuanya seharusnya kedudukannya sama. Terutama di jalan raya. Mempunyai ukuran yang besar dan beramai-ramai bukan berarti bisa menguasai jalan, dan tentunya bukan berarti dapat memerintah orang lain untuk minggir.. Kalau menggunakan pengawal convoy (polisi) ya oke aja deh kalau harus minggir, tapi tentunya tidak pakai gebrak sana -pukul sini kan? Bkankah itu tindakan anarkis dan menjelekkan nama moge itu sendiri? Selama saya menggunakan moge, saya berusaha untuk menempatkan diri saya untuk hanya menjadi 'pengendara motor', dan jujur aja itu tidak susah kalau Anda memang niat ingin naik motor karena hobi dan bukan karena ingin 'gaya'. Dan tentunya saya menerima kekurangan-kekurangan yang ada seperti panas, macet, dan berat (kalau memang nggak kuat dan capek, seharusnya jangan pakai motor itu kan? ya nggak? seharusnya ganti motornya yang sesuai dan jangan malah nyuruh minggir orang lain seenaknya). Itu kenyataan yang ada di pemakaian moge sehari-hari, dan itu saya terima karena saya ingin dan enjoy naik motor, dan bukan karena ingin gaya naik moge. Menurut saya para pengguna moge harusnya lebih mawas diri dan lebih peduli atas kelakuan mereka. The Bigger The Power, The Bigger The Responsibility adalah yang harusnya dilakukan para pengendara moge. Ukuran besar dan kapasitas mesin yang besar justru membuat penggunanya harus lebih bertanggung jawab atas caranya membawa motor itu. Bukan berarti lebih bebas dan sewenang-wenang. My point is, saya sangat tidak setuju dengan arogansi motor besar yang menggunakan konvoi untuk dapat seenaknya di jalan raya.. Apa sih susahnya bagi pengendara moge untuk menjadi 'pengendara motor'? Apa tidak bisa rombongan tapi sopan dan rapi? Apakah susah untuk pengendara moge untuk tidak sombong? Jawaban dari semua itu tentunya TIDAK, karena semua itu bisa dilakukan dan seharusnya pengendara yang rogan itu malu.. Wong di negara asalnya moge aja mereka ngga pakai kawal-kawal apa pun, masa di sini ga bisa? Kalau yang masih sombong begitu harusnya keputusan untuk naik motornya ditinjau ulang tuh.. Mending naik mobil aja.
(nrl/)











































