Pengalaman Miris Pembaca Tentang Arogansi Moge

Pengalaman Miris Pembaca Tentang Arogansi Moge

- detikNews
Selasa, 14 Feb 2006 11:37 WIB
Jakarta - Tidak hanya Sarie Febriane saja yang menyesalkan arogansi rombongan motor gede (moge). Sejumlah pembaca detikcom juga menceritakan kisah-kisah tak mengenakkan hati ketika menemui rombongan moge di jalanan.Inilah sebagian kisah mereka:Irwan Budiarto:Saya sangat mendukung sekali Ibu Sarie Febriane, saya juga sering mendapatkan pengalaman seperti itu di Surabaya dan untungnya tidak sampai terjadi pertengkaran dengan mereka, hanya nggrundel dalam hati.Pengalaman yang paling memalukan adalah di Bali, 2 - 3 tahun lalu ketika banyak turis mancanegara jalan2 di Kuta Area, tiba2 datang rombongan moge, yang waktu itu mereka ada acara Jakarta - Bali. Dengan arogan mereka breyer motornya hingga telinga pejalan kaki sekitar terasa agak pekak. Demikian pula perjalan pulang lewat penyeberangan, mereka tanpa antre dan arogan langsung masuk kapal.Hendaknya, polisi mengatur sikap mereka, atau yang paling awal dari ini semua adalah pengaturan sikap dari masing-masing klub.Ahmad Husen:Apa yang dialami oleh Ibu Sarie pernah juga saya alami, bahkan 2X. Yang pertama hari Sabtu di bulan Januari (saya lupa tanggalnya), sekitar pukul 07:00 WIB motor saya yang dalam posisi berhenti hampir terserempet segerombolan moge yang melintas di Jalan Kalimalang Bekasi. Padahal kondisi waktu itu padat kendaraan tapi mereka tetap melajukan kendaraan dalam kecepatan tinggi. Tanpa merasa bersalah mereka malah marah-marah, tapi tidak saya ladeni karena saya harus berangkat kerja. Yang kedua, tanggal 11 Februari kemarin sekitar pukul 19:00 WIB, sewaktu pulang kerja saya d senggol oleh segerombolan motor Tiger yang lokasinya sama di Kalimalang Bekasi. Padahal di lokasi itu setiap jam berangkat dan pulang kerja kondisi padat.Irwan Kurniawan:Saya setuju dengan ajakan Ibu Sarie...memang mereka keterlaluan, emangnya jalan milik mereka seenaknya mengabaikan hak orang lain, jalan raya kan milik umum, emangnya mereka doang yang bayar pajak. Memang negara ini aneh, katanya semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama, tetapi kok ada karena kepentingan kelompok tertentu, hak orang lain diabaikan.Sekarang trend seperti itu bukan hanya milik yang punya motor gede, kadang-kadang di Bogor setiap akhir minggu banyak sekali kelompok-kelompok atau pecinta motor tertentu seperti grupnya motor Tiger, Vespa, Honda, dlsb, seenaknya menyuruh orang lain minggir. Mulai sekarang mari kita cuekin mereka, kalau memang macet..ya mereka rasakan juga dong macet, emangnya negara ini milik mereka doang...Jadi tolonglah kepada mereka-mereka....orang lain pun punya hak yang sama, toh mereka pun tidak dalam kasus emergency...kalaulah memang emergency seperti ambulan atau pejabat yang memang aturan protokolnya seperti itu ( kadang bikin jengkel juga sih...) kita juga toleranChristian S:Salut buat Ibu Sarie, memang harus begitu dilawan secara bersama-sama. Ide seperti ini mengirim lewat e-mail akan membuat opini publik yang sudah sewot secara pribadi-pribadi akan menjadi satu. Saya juga pernah punya pengalaman seperti Ibu Sarie. Biasanya hari Sabtu atau hari libur pergi ke Puncak, nah biasanya disini nih. Kita yang pakai kendaraan biasa yang lagi antre macet total tunggu jalan akibat buka tutup jalur puncak - Jakarta, mereka dengan sirine dan dikawal sama polisi enak-enak aja jalan di tengah jalan, sepertinya mereka benar-benar warga negara kelas satu aja. Akibat mereka berbuat seperti ini mengakibatkan menular ke motor-motor kecil yang mamakai jenis club-club motor. Memang susah kalau orang-orang kaya, tapi digunakannya hanya untuk senang-senang tapi tidak melihat lingkungan sekitarnya. Harjanto Timy:Saya juga pernah ngalamin kejadian yang hampir mirip dengan Ibu Sarie. Waktu itu pas di Bandung. Saya baru turun dari Jalan Sersan Bajuri menuju Jalan Setiabudhi. Kayaknya mereka dari Kampung Daun. Jalan di sana kan sempit banget dan cuma cukup untuk dua arah alias ngepas banget. Kebetulan dari arah berlawanan ada mobil mogok, eeee.. taunya ada serombongan moge yang dikawal Patwal nyelonong.. Mereka minta buka jalan, tapi gimana lagi, lha wong jalannya ngepas. Akhirnya kami ramai ramai bunyikan klakson. Mereka nantang juga bunyiin. Tapi kami bergeming. Bedanya dengan Bu Sarie, akhirnya mereka yang ngalah, nyari jalan tikus deket UPI. Sufianta:Saya kira bukan cuman moge aja ya...soalnya saya pernah mengalami waktu motor bebek saya didahului konvoi motor Ttiger, padahal sudah minggir .Eh ada 1 orang di motor belakang yang masih mukul tangan saya. Sebaiknya dilarang saja konvoi-konvoi yang nggak jelas gitu.Hermawan:Dari beberapa temen katanya itu mesin karena takut over heating dan beban mesin yang besar makanya mereka minta diprioritaskan. Kalau dari saya sih cuma kementar begini: negara kita ini kan hanya dimiliki orang tertentu..mana bisa kita ngelarang orang yang punya duit buat nglarang ini itu. Capek ngelihat aksi mereka yang sok jagoan, mendingan menyingkir aja deh.. Iip:Saya juga pernah mengalami hal yang sama, kejadiannya di Sleman, yang parahnya lagi ini kejadian malah di jalan kampung menuju ke tempat agro wisata, tapi waktu itu saya hanya sedang mengantar rombongan untuk acara perkawinan.Orang-orang bermotor besar ini benar-benar udah keterlaluan, di jalan kampung yang sepi, kanan kiri cuma kebun. Tapi tingkah orang-orang ini nggak tau diri, pasang sirine dan menyuruh motor dan mobil bahkan sepeda ontel yang ada suruh minggir. Padahal ya jalan emang sepi..bikin hati panas saja mereka ini...Bagusnya kalau ada rombongan kayak begini yang suka show of force mendingan dilempari batu aja kali ya. Saya yakin ada pejabat yang ikutan bermoge ria disitu, biasanya yang paling pasti adalah pejabat dari kepolisian...yah..gimana kalau negara kita diatur oleh orang-orang arogan seperti mereka...Sugondo:Saya juga pernah melihat, moge yang begitu arogan, dan kejadiannya juga di Cinere Raya, yang jalan sudah sempit dan rusak, akan tetapi dengan angkuhnya pengendara moge membunyikan klakson yang memekakkan telinga, mengaung-ngaung minta diberikan proritas jalan. Emangnya hanya mereka yang bayar pajak? Emangnya hanya mereka yang mau cepat sampai tujuan? Menurut tayangan berita di salah satu stasiun TV, mereka itu ke daerah-daerah menyumbang sembako, tapi kalau lihat tingkah lakunya, terus terang saja menjadi ragu dan akhirnya berantipati terhadap moge, walaupun saya berencana untuk memiliki moge. Saya menyaksikan sendiri di suatu pagi hari bapak polisi dengan moge patrolinya meliwati jalur busway, sayang saya tidak bawa kamera. Jadi tidak ada bukti, lain kali saya harusnya bawa, sehingga bisa dimuat juga di detikcom ini. Saiful Umam:Saya setuju banget dengan kampanye arogansi motor gede ini. Sudah saatnya semua pengendara di jalan tidak perlu minggir memberi jalan ke rombongan moge ini. Mereka tidak punya hak menyuruh pengendara lain minggir dan memberi jalan buat mereka. Mereka bukan rombongan VVIP yang harus diberi jalan, bukan ambulan yang membawa orang sakit, bukan pemadam kebakaran yang akan bertugas, dan bukan pula polisi yang perlu menangani masalah dengan segara. Saya juga mengimbau agar pihak yang berwenang, polisi dalam hal ini, menertibkan penggunaan sirine pada kendaraan bermotor. Setahu saya, di negara-negara lain yang mempunyai sirine hanyalah mobil ambulan, polisi, dan pemadam kebakaran. Itu pun mereka tidak selamanya menyalakan sirine. Mereka hanya menyalakan sirine kalau sedang melaksanakan tugas yang mendesak. Sekali lagi saya setuju untuk melawan arogansi rombongan moge ini. Jangan mentang-mentang kaya dan kuat membeli moge, lalu menjadi arogan di jalan. Jangan-jangan duit yang didapat untuk membeli moge malah hasil dari korupsi.... Hanya satu kata, lawaaaann! (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads