Kampanye Anti Arogansi Motor Gede Menyebar di Milis
Selasa, 14 Feb 2006 10:36 WIB
Jakarta - Konvoi rombongan moge alias motor gede sudah lama membuat jengkel sebagian pengguna jalan. Sebelumnya kejengkelan hanya diwujudkan lewat keluhan. Tapi kini muncul seruan agar melawan arogansi moge. Kampanye dilakukan lewat milis.detikcom, hingga Selasa (14/2/2006) ini menerima banyak e-mail yang berisi kampanye anti arogansi moge. Kampanye lewat milis itu diposting oleh Sarie Febriane.Dalam emailnya, Sarie menceritakan pengalaman buruknya saat berhadapan dengan rombongan moge yang sedang konvoi. Peristiwa itu terjadi Minggu 5 Februari, saat Sarie tengah mengendarai mobilnya di Jalan Cinere Raya. Seperti biasa, Minggu sore itu Jalan Cinere Raya yang rusak macet. Ibu satu anak itu tengah mengendarai mobilnya dari arah Jakarta ke arah Sawangan. Tiba di dekat Polsek Cinere, lewatlah rombongan moge yakni Harley Davidson (HD) yang didahului bunyi sirine melengking. Melihat rombongan itu, Sarie memperlambat laju mobil karena takut tersenggol. Ibu beranak satu ini teringat kisah seorang bapak yang dipukuli oleh rombongan HD karena dianggap menghalang-halangi laju rombongan HD. Benar saja, rombongan moge itu mulai menyalip dan memenuhi ruang di sisi kanan mobil Sarie.Para pengendara moge kemudian menyuruh Sarie lebih minggir ke kiri, padahal sisi jalan sebelah kiri juga sudah mentok. "Jelas saya nggak mau memaksakan diri lebih mepet ke kiri, wong saya bergerak di lajur yang semestinya!" kata Sarie. Karena Sarie tidak mau mengalah, rombongan moge itu meraung-raungkan gas motornya. Sarie membalas dengan mengedip-ngedipkan lampu jauh mobilnya kepada motor di depannya. Mungkin merasa ditantang, seorang pengendara moge menggebrak kap mobil Sarie. "Mungkin karena saya perempuan, dipikirnya saya takut. Saya buka jendela mobil sampai habis, dan saya teriak hei jangan norak lu, gebrak-gebrak! Lu yang minggir!" teriak Sarie.Situasi makin memanas, pengendara HD menggebrak mobil Sarie lagi. Perempuan itu kembali berteriak memaki sang pengendara. Pengendara HD lainnya yang tak terima langsung ikut membela temannya. Dia melayangkan tangannya ke arah Sarie. "Saya pikir dia berlagak mengancam mau menempeleng, rupanya spion mobil saya digamparnya dengan kuat sampai terlipat ke arah dalam," cerita Sarie.Sarie pun makin marah. Sumpah serapah kasar keluar dari mulut perempuan itu. Dengan emosi, ia kemudian menyemburkan ludah ke arah kelompok yang membuatnya marah. "Tapi ludah saya gagal mengenai helm begundal itu dan cuma kena dikit di body motornya," kata ibu muda itu. Ketika itu nyaris saja Sarie mematikan mesin dan turun dari mobil. Untunglah ia teringat putrinya yang berusia 20 bulan sehingga kepalanya pun mulai bisa sedikit dingin. Dia pun memilih mengalah sementara. Namun bukan berarti Sarie diam. Dia mulai kampanye lewat milis. Diceritakannya pengalaman menjengkelkan itu, sembari mengajak teman-temannya melawan kawanan moge yang arogan. "Jika publik kompak serentak melawan segala aksi mentang-mentang seperti itu, perilaku arogan semacam itu paling tidak bisa terminimalisasi. Kebiasaan menolerir tingkah seperti itu, lama-lama bisa menjadi pemakluman, lalu jadi membenarkan!" ajak Sarie.Sarie tak lupa meminta agar emailnya disebarluaskan agar menjadi gerakan melawan arogansi moge di jalanan. Dan ternyata pesan Sarie mendapat respons antusias. E-mailnya menyebar dari milis ke milis dan menjadi perbincangan seru. "Baca saja langsung jengkel," komentar seorang anggota sebuah milis. Bisa jadi Anda juga mendapatkan kiriman e-mail sejenis saking luasnya e-mail Sarie itu. Suara AndaAnda juga punya pengalaman kurang mengenakkan dengan rombongan moge? Atau pendapat tentang Moge? Kirimkan ke email: redaksi@staff.detik.com.
(iy/)











































