Jadi Primadona, Ikan Koi dari Blitar Sudah 'Berenang' ke Negeri Jiran

Angga Laraspati - detikNews
Jumat, 19 Feb 2021 13:05 WIB
Ikan Koi Blitar
Foto: Ari Saputra
Blitar -

Menjadi primadona di Kabupaten Blitar, Jawa Timur ternyata ikan koi yang dibudidayakan masyarakat sudah menembus pasar ekspor. Kala itu peternak ikan koi di Blitar mengirimkan 160 ikan koi ke Malaysia pada tahun 2017.

Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Ketua Kelompok Beringin Koi, Krisnowo (48) yang berbasis di Desa Sumberingin, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Ia bercerita pada tahun 2017, ia pernah mengirimkan 160 ikan koi langsung menuju ke Malaysia.

"Jadi waktu itu permintaannya 160 jenis ikan koi, tapi itu ukurannya masih kecil sekitar 12-15 cm. Itu sekali ekspor per ekornya Rp 70.000, sehingga omzetnya 160 dikalikan Rp 70.000 yaitu Rp 11.200.000," ujar Krisnowo kepada detikcom beberapa waktu yang lalu.

Ia juga mengatakan karakteristik ikan koi yang ada di Blitar dapat dilihat dari kualitas penilaian awalnya terkait bodi, jadi bodinya harus besar. Kemudian kualitas putihnya/warna dasarnya serta pendampingnya yaitu warna merah dan hitam yang bagus.

"Seperti ikan koi jenis showa (tiga warna). Definisi bagusnya adalah warna hitam, merah dan putihnya proporsional, seimbang yaitu masing-masing sekitar 30%. Ada di kepala, bagian tengah dan belakang harus proporsional," tuturnya.

Krisnowo menuturkan untuk satu ikan koi yang mempunyai kualitas bagus bisa dibanderol diharga Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Bahkan dirinya pernah menjual satu ikan koi berukuran 45 cm dengan harga yang fantastis yaitu Rp 10 juta.

"Untuk bisa dapat ikan koi berkualitas bagus ini sangat jarang perbandingannya sekitar 1 : ribuan. Karena, indukan bisa menghasilkan 150.000 bibit dan paling hanya ada 1 yang berkualitas sangat baik," ungkap Krisnowo.

Dalam menjaga kualitasnya, Krisnowo juga kerap membeli bibit yang diimpor langsung dari Jepang. Sebab, acapkali keturunan yang tidak langsung dari Jepang kualitasnya juga ikut menurun, seperti pada bodi ikan dan juga bintik yang menjadi mahkota dari ikan koi.

"Nah, karenanya kita terus melakukan perbaikan dengan mengimpor pejantan dari Jepang setiap 5 tahun sekali," imbuh Krisnowo.

Dalam proses pemeliharaan koi, Krisnowo juga kerap mengalami berbagai kendala seperti proses pemijahan yang daya tetasnya rendah dan hasilnya jadi sedikit. Ada juga yang daya tetasnya tinggi tapi ketika dibawa ke kolam pembesaran ada masalah.

"Kendalanya yang paling pengaruh itu adalah cuaca. Ketika masa pancaroba atau pergantian musim, terutama ketika menghadapi musim penghujan pasti akan muncul berbagai penyakit seperti jamur pada ikan, Aeromonas (bakteri yang menginfeksi ikan), meskipun petani sudah lama menghadapi penyakit itu masih tetap menimbulkan angka kematian," imbuhnya.

Krisnowo yang juga memiliki 12 kolam ikan koi mengungkapkan dirinya mengikuti program KUR untuk mengembangkan usahanya di tahun 2013. Ia pun mengatakan sebelum melakukan pinjaman untuk mengembangkan kolam sangatlah sulit karena kebanyakan peternak koi pendapatannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

"Setelah pinjaman ini kita bisa sewa lahan, pendapatan lebih, punya tabungan. Untuk omzet sesudah pinjam ini ya meningkat sampai 300%. Karena kita kan jika mau menambah lahan kan harus sewa dan otomatis butuh modal dan jika tidak ada pinjaman ya pasti susah. Ketika lahan sudah bertambah ya pendapatan juga otomatis bertambah," pungkasnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "Gerabah Blitar Warisan Majapahit"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)