Hunian Tetap untuk Korban Gempa Palu Sulteng Terkendala Sengketa Tanah

Mohammad Qadri - detikNews
Selasa, 16 Feb 2021 01:15 WIB
Ilustrasi gempa Donggala dan tsunami Palu (Nadia Permatasari/detikcom)
Foto: Ilustrasi gempa Donggala dan tsunami Palu (Nadia Permatasari/detikcom)
Palu -

Pembangunan hunian tetap (Huntap) bagi korban gempa Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng) terkendala masalah sengketa tanah. Sehingga, dari 70 hektar yang direncanakan, hanya berhasil membangun 14 hektar Huntap di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Palu, Sulawesi Tengah.

"Untuk konsep awal itu, ada sebanyak 450 unit Huntap untuk di lokasi Keluarahan Duyu. Dalam surat penyerahan, ada 26 hektar yang bisa digunakan membangun Huntap, bahkan dalam penetapan lokasi (Panlok) tercatat ada 70 hektar," ucap Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulteng, Ferdinan pada Senin (15/2/2021).

"Namun saja konsep tersebut tidak bisa untuk direalisasikan karena dianggap sebagian lahan, statusnya sengketa, sehingga hanya bisa menguasai 14 hektar saja," katanya.

Dari 14 hektar yang dikuasai oleh negara, sudah dibangun sebanyak 230 unit Huntap. Sudah ada seratusan kepala keluarga (KK) korban gempa Palu yang tinggal di huntap.

"Hari ini Kami menyerahkan kunci Huntap kepada 108 KK warga yang terdampak bencana 2018. Masing - masing KK nantinya akan menempati 230 unit Huntap atau pekerjaa yang dilakukan pada tahap pertama," katanya.

Pemerintah berharap, Huntap yang tersedia bisa dimanfaatkan sebaik mungkin. Masyarakat yang membutuhkan bisa datang untuk mengisi Huntap yang masih tersedia.

"Jadi pembangunan dilakukan sesuai dengan permintaan warga yang bersedia tempati dan tinggal di Huntap Duyu. Sebelumnya dilakukan pendataan kembali, agar supaya bangunan Huntap yang disediakan dengan konsep standar nasional bisa digunakan sebaik mungkin," ucapnya.

Ferdinan juga menyampaikan, Huntap telah difasilitasi dengan air bersih dan aliran listrik. "Untuk sementara, kebutuhan air bersih diperoleh dari sumur bor yang diisediakan dikawasan huntap. Namun, kedepannya akan dikonsepkan skema spam regional dari aliran sungai Lewara," katanya.

Lihat juga video 'Tembakan Peringatan Bubarkan Warga Bogor yang Ricuh di Kantor Kelurahan':

[Gambas:Video 20detik]



(aik/aik)