Bertemu Dubes Jepang, Bamsoet Bahas Bisnis Otomotif-Akses Ekspor

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Senin, 15 Feb 2021 14:52 WIB
MPR
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menyambut Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kanasugi Kenji di Ruang Kerja Ketua MPR RI. Melalui Duta Besar Jepang, Bamsoet mengajak perusahaan otomotif asal Jepang menanamkan investasi untuk mengembangkan kendaraan listrik di Indonesia.

Bamsoet menyebutkan sejumlah negara yang telah meramaikan pasar kendaraan listrik dunia di antaranya Amerika Serikat (Tesla), China (Wuling), dan Korea Selatan (Hyundai). Ia pun menyampaikan masyarakat Indonesia yang sangat familiar dengan produk Jepang, sudah tak sabar menunggu lahirnya kendaraan listrik dari Jepang.

"Kerja sama otomotif yang selama ini sudah terjalin antara Indonesia dengan Jepang, menjadi modal besar bagi kedua negara untuk meningkatkan kerja sama otomotif di bidang kendaraan listrik. Selain memiliki potensi pasar terhadap 270 juta lebih penduduk Indonesia, kendaraan listrik hasil kerja sama Jepang dengan Indonesia juga bisa diekspor ke 625 juta penduduk ASEAN, maupun 4,5 miliar penduduk Asia," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Senin (15/2/2021).

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan ekspor kendaraan listrik yang dihasilkan Indonesia dengan Jepang tidak terlalu sulit untuk dilakukan. Mengingat kedua negara sudah bekerja sama mengembangkan Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, sebagai terminal ekspor kendaraan otomotif asal Indonesia.

"Melalui total investasi yang dikucurkan mencapai Rp 50 triliun, Pelabuhan Patimban merupakan modal besar bagi Indonesia dan Jepang dalam menghadapi ASEAN Connectivity 2025. Dari Indonesia, didukung kerjasama dengan Jepang, pasar otomotif Asia, bahkan dunia harus bisa kita kuasai bersama," jelas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini juga meminta pemerintah Jepang mempermudah akses ekspor sejumlah sektor dari Indonesia ke Jepang. Seperti hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan. Menurutnya, akses ekspor saat ini prosesnya agak terhambat karena berbelitnya prosedur seperti food safety traceability dan food safety sustainability yang dilakukan pemerintah Jepang.

"Penurunan tarif bea masuk yang saat ini memberatkan bisa menjadi angin segar bagi peningkatan kerja sama kedua negara. Sehingga bisa semakin meningkatkan nilai perdagangan antara Indonesia dengan Jepang. Menurut catatan Japan-Indonesia Partnership Lounge (JAIPONG), total nilai perdagangan Indonesia-Jepang pada tahun 2020 (periode Januari-Oktober) mencapai USD 19,9 miliar. Total nilai ekspor mencapai USD 11,1 miliar dan impor sebesar USD 8,8 miliar," terang Bamsoet.

Selain itu Bamsoet juga menyampaikan duka cita atas musibah gempa bumi bermagnitudo 7,3 yang mengguncang prefektur Miyagi dan Fukushima di wilayah Tohoku, Jepang. Ia menyebutkan, kejadian tersebut merupakan gempa bumi terbesar kedua yang mengguncang Jepang sejak 2011.

"Menurut keterangan Duta Besar Jepang, sejauh ini tidak ada korban jiwa akibat gempa tersebut. Dengan pengalaman yang dimiliki, Jepang pasti bisa melalui musibah ini dengan baik. Sebagai sahabat, Indonesia siap memberikan bantuan apapun yang dibutuhkan," pungkas Bamsoet.

(akn/ega)