Masyarakat RI di Inggris Menolak Pelecehan Simbol Agama
Jumat, 10 Feb 2006 18:29 WIB
Den Haag - Pelecehan dikhawatirkan akan meningkatkan potensi kerusuhan dan ancaman terorisme baru. Mereka menyerukan boikot atas pelaku pelecehan simbol agama.Dalam pernyataan yang diterima detikcom hari ini, Jumat (10/2/2006), masyarakat yang tergabung dalam Solidaritas Antipelecehan Simbol Agama (Sasa) itu menilai pelecehan Nabi Muhammad SAW yang dilakukan Jyllands-Posten telah melukai masyarakat pemeluk agama Islam secara internasional, termasuk Indonesia."Ketidakpekaan jurnalistik suratkabar Denmark itu terhadap keyakinan yang dianut oleh umat Islam, tak pelak lagi akan meningkatkan potensi kerusuhan dan ancaman terorisme baru di Indonesia bila tidak disikapi secara bijaksana dan elegan," bunyi pernyataan yang diteken bersama 15 organisasi itu.Mereka antara lain Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (Kibar), Nahdlatul Ulama (NU) Cabang Inggris, PIP-Partai Keadilan Sejahtera, Indonesian Islamic Centre (IIC), ICMI Orsat London, Indonesian Community, Brunel University (West London), Indonesian Muslim Youth Association (IMYA) dan dari kelompok pengajian: Masyarakat Indonesia Birmingham (MIB), Al-Ikhlas, Al-Hidayah (London), At-Taqwa (Swindon), Pengajian Indonesia (PI) Glasgow, PI Leicestershire dan Nottinghamshire (PeLN), PI Huddersfield, dan PI ManchesterSebagai bagian dari upaya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Solidaritas menghimbau agar pemerintah menutup sementara kantor perwakilan RI di Denmark sampai batas waktu yang wajar dan sesuai kondisi yang ada saat itu. Menurut Solidaritas, tindakan ini perlu dilakukan untuk menegaskan sikap resmi pemerintah Indonesia terhadap penghinaan itu sebagai upaya untuk meredam luapan kemarahan umat Islam Indonesia terhadap ketidakberdayaan pemerintah Denmark yang dibelenggu oleh kebebasan berpendapat yang tak mengenal batas itu.Solidaritas juga menyerukan agar segenap masyarakat Indonesia baik di dalam maupun di luar negeri untuk melakukan boikot terhadap produk-produk buatan Denmark. Motivasinya, agar masyarakat Denmark bisa memahami bahwa selain entitas yang bernama kebebasan tanpa batas itu masih ada entitas lain yang bernama kebebasan berbatas. "Kita perlu mengatakan kepada Pemerintah Denmark dan Barat secara keseluruhan bahwa kebebasan tanpa batas atas nama demokrasi tidak bisa dan tidak boleh menjadi kekuatan kolonial tunggal di dalam peradaban manusia," demikian Solidaritas.Di samping itu Solidaritas juga meminta kepada pemerintah untuk mendesak negara-negara Islam yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk menutup kantor perwakilan mereka di Denmark dan menyatakan sikap bersama. Kepada masyarakat Islam di Indonesia, Solidaritas menyerukan agar tidak menyampaikan protes dengan cara kekerasan dan anarkis.
(es/)











































