Anies Bicara Upaya Hadapi COVID-19: Ini Beda dengan Tsunami-Sungai Meluap

Yulida Medistiara - detikNews
Senin, 08 Feb 2021 10:45 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan penuhi panggilan Polda Metro Jaya untuk klarifikasi soal kerumunan di acara Habib Rizieq.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (Foto: Yogi Ernes/detikcom)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berbicara terkait peran media massa dalam mengawasi krisis pandemi COVID-19. Anies menyebut tugas pemerintah adalah membuat kebijakan, sementara masyarakat melakukan 3M, sedangkan media berperan sebagai penyambung informasi.

"Peran pers, peran teman-teman mengapa ini menjadi penting, karena untuk menghadapi pandemi ini agak berbeda dengan krisis kirisis lain. Krisis kesehatan yang sekarang melanda seluruh dunia membutuhkan kebijakan yang tepat di level makro dan perilaku yang benar di level mikro, hanya kebijakan yang tepat saja tapi tidak diiringi dengan perilaku mikro yang benar maka hasilnya nggak ada," ujar Anies, dalam sambutannya dalam acara Konvensi Nasional Media Massa 2021, yang disiarkan di YouTube Dewan Pers, Senin (8/2/2021)

Anies menyebut sebaliknya jika tindakan masyarakat di level mikro benar, tetapi tidak ada kebijakan, maka pandemi sulit dilakukan. Sebab pandemi berbeda dengan bencana yang terjadi seperti banjir, gunung meletus, tsunami dan gempa bumi, karena usai terjadi peristiwa bencana sekali, maka dapat langsung ditangani dampaknya.

"Sebaliknya bila langkah mikro benar tapi tidak ada kebijakan makro yang tepat maka pandemi ini sulit dilakukan. Ini berbeda dengan kita menghadapi tsunami, menghadapi gempa bumi, kita menghadapi bencana gunung meletus, atau ketika hujan sungai meluap, peristiwanya terjadi sekali setelah itu dampaknya dikelola. Peristiwa terjadi tanggal x sesudah itu x plus 1 2 3 4 5 kita mengelola dampaknya," kata Anies.

Anies mengatakan saat ini pandemi COVID-19 berlangsung terus menerus dan tidak diketahui kapan berakhir. Oleh karena itu untuk mengendalikan pandemi harus dilakukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, sedangkan media berperan membangun kesadaran.

"Kali ini peristiwanya terjadi terus menerus, yang kita belum tahu ujungnya kapan dan bagaimana, untuk kita bisa mengendalikan ini maka diperlukan langkah bersama di tingkat makro kebijakan dan langkah bersama di tingkat mikro pribadi terjadi," kata Anies.

Anies mengatakan peristiwa pandemi COVID-19 jangan dipandang sebagai bencana yang pendek, melainkan panjang dan akan dikenang dalam sejarah. Oleh karena itu, Anies meminta pemerintah berperan menyusun kebijakan yang baik, sementara masyarakat melaksanakan 3 M, sedangkan media membangun kesadaran.

"Bagian dari pemeritah melakukan 3T, dan bagian dari mikro melakukan 3M dan ini lah media menjadi penyambung untuk bisa memastikan, satu pemerintah betul menjalani 3T. Karena media membawa peran memastikan bahwa proses pemerintahan berjalan dengan benar sebagai salah satu pilar demokrasi," kata Anies.

"Di sisi lain media mengajak masyarakat, mencerahkan, mencerdaskan untuk bisa melaksanakan 3M dengan benar. Ini peluang sejarah yang harus diambil oleh teman-teman media. Dan saya percaya pers Indonesia, para jurnalis selalu menjadi bagian penting dalam proses kebangsaan, proses perjalanan republik ini," ungkapnya.

Anies mengungkap krisis bisa diubah dengan istilah perubahan cepat atau accelerated change. Ini bisa dilakukan jika ada kerja sama yang baik antara semua pihak.

"Dalam kita melewati ini pemerintah harus bekerja dengan cepat dan cepat dan media, pers membantu menjadi mata, telinga atas apa yang senyatanya terjadi di lapangan. Untuk itu kami menyampaikan makasih karena feedback-feedback itu membuat kita bisa memastikan bahwa kebijakan langkah berjalan dengan baik di lapangan," ungkapnya.

(yld/hri)