Kolom Hikmah

Kebiasaan Rasulullah: Makan Makanan yang Halal, Thayyib dan Berpuasa

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 05 Feb 2021 06:10 WIB
One day One Hadits
Foto: Andhika A/detikcom
Jakarta -

Rasulullah SAW dalam gaya hidup tentang pola makan, sangat selektif terhadap makanan yang dimakan. Makanan tersebut harus memenuhi syarat halal dan thayyib (baik). Halal berkaitan dengan urusan akhirat, yaitu halal cara memperolehnya dan halal prosesnya (barangnya). Sedangkan thayyib berkaitan dengan duniawi, baik tidaknya, bermanfaat bagi kesehatan atas makanan yang dikonsumsi.

Kegemaran Rasulullah SAW adalah meminum madu yang dicampur dengan air. Sesuai dengan sabdanya, "Hendaklah kalian menggunakan dua macam obat, yaitu madu dan Al-Qur'an " ( Riwayat Ibnu Majah dan Halim ).

Diperkuat oleh firman Allah SWT: "Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan jangan kamu mengikuti langkah-langkah setan." ( Al-Baqarah : 168 ).

Bagi Rasulullah SAW, makan bukan sekadar memasukan asupan pada mulut dan menelannya. Namun lebih dari itu, bahwa makan adalah bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas begitu banyak anugerah yang Dia berikan. Maka aktivitas makan menjadi bagian dari ibadah yang mempunyai nilai pahala. Beliau tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Pola makan bukanlah harus kenyang karena kapasitas perut sebaiknya diisi 1/3 makanan padat, 1/3 untuk minuman cair dan 1/3 untuk udara.

Cara makan Beliau, dengan tenang, thumaninah, tidak tergesa-gesa. Hal ini akan menghindari tersedak, tergigit dan kerja organ pencernaan menjadi lebih ringan. Memberi kesempatan mengunyah lebih lama agar enzim amilaze bekerja memproses makanan tersebut sehingga mudah diserap tubuh dan meringankan kerja organ pencernaan. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna dan dalam jika panjang bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Rasulullah SAW, istiqamah dalam menjalan puasa sunah di luar puasa Ramadhan. Adapun puasa sunah yang dijalankan adalah puasa Senin Kamis, pertengahan bulan, puasa Nabi Daud dan enam hari pada bulan Syawal. Berpuasa merupakan ibadah yang meningkatkan ketaqwaan bagi seorang muslim. Hal ini seperti firman Allah SWT, "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." ( Al-Baqarah : 183 ).

Adapun manfaat puasa ditinjau dari sisi kesehatan. Sementara sebuah studi telah menyebutkan, puasauntukkesehatanselama 3 hari saja setiap bulan dapat mengembalikan sistem kekebalan tubuh.

Seperti yang dilaporkan Telegraph, sekelompok ilmuwan di University of Southern California (USC), telah menemukan bahwa puasa selama tiga hari dalam setiap bulannya dapat meregenerasi seluruh sistem kekebalan tubuh, bahkan pada orang tua sekalipun.

Penelitian terbaru menunjukkan, puasa dapat merangsang sel untuk menghasilkan sel darah putih baru, yang dapat membantu dalam memerangi infeksi apapun.
Para ilmuwan juga menemukan bahwa puasa dapat membantu meningkatkan kekebalan tubuh seseorang yang buruk, termasuk penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi.

Berpuasa juga bermanfaat untuk lansia, karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah lemah karena proses penuaan, sehingga mereka tidak mampu melawan penyakit yang umum sekalipun.

Tatacara makan minumpun telah diajarkan oleh Beliau seperti, mulailah dengan menyebut nama Allah SWT dan diakhiri dengan memuji-Nya. Akan lebih baik jika setiap suapan membaca basmalah, sehingga laparpun tidak membuat kita lupa berzikir pada Allah SWT. Menggunakan tangan kanan dan janganlah mencela makanan apapun.

Rasulullah saw, tidak pernah mencela satu makananpun dan Beliau selalu menikmati setiap makanan. Jika kurang menyukai suatu makanan tetap dibiarkan tanpa mencelanya. Juga memberikan contoh dengan makan makanan yang ada di dekatnya. Dalam situasi saat ini wisata kuliner sangat menonjol sehingga terkadang melenakan, akibatnya lupa akan contoh yang telah diberikan Beliau.

Minumpun telah ada adabnya, maka minumlah dengan cara perlahan tidak meneguknya secara langsung (terus menerus tanpa menarik nafas). Penyakit paru-paru disebabkan oleh minum dengan cara meneguk langsung. Ibnu Qayyim berkata, "diketahui melalui pengalaman bahwa serangan air terhadap limpa akan menimbulkan sakit dan memperlemah suhu tubuh. Berbeda kalau air itu datang secara pelan-pelan."

Sedangkan untuk makanan dan minuman yang masih panas, dilarang meniup untuk mendinginkannya, karena tiupan itu membuat makanan dan minuman terkontaminasi. Saat meniup seseorang sudah menyebarkan virus dan bakteri. Efek meniup ini sebabkan sakit jantung, hal ini dikarenakan saat meniup H2O dan CO2 akan keluar dari mulut dan berubah menjadi asam karbonat. Batu ginjal akan timbul jika makanan mengandung kalsium oksida (CaO) dan bertemu dengan karbondioksida (meniup), kalsium oksida akan berubah menjadi batu kapur (CaCO3).

Beliau juga mengajarkan agar selalu menutup makanan dan minuman. Jika makanan dan minuman dalam keadaan terbuka, dikhawatirkan kemasukan debu, terkena bakteri, jasad renik atau dihinggapi lalat, yang semua itu bisa menimbulkan penyakit. Dengan tegas Rasulullah SAW bersabda, "Tutuplah wadah-wadah makananmu dan ikatlah leher-leher kantung airmu. Karena sesungguhnya ada satu malam dalam satu tahun di mana wabah datang dan tidak datang ke wadah-wadah yang tak tertutup kecuali dia (wabah itu) jatuh ke dalamnya (Riwayat Muslim). Sebagai upaya pencegahan, menutup makanan dan minuman merupakan langkah tepat.

Kegiatan makan dan minum dalam kehidupan merupakan aktifitas yang sering dilakukan, maka bersyukurlah jika bisa mencontoh yang sudha dilakukan Rasulullah SAW. Semoga kita termasuk dalam golongan ini.

Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)