Debitor Nakal Diterima di Istana Lukai Perasaan Masyarakat
Kamis, 09 Feb 2006 13:27 WIB
Yogyakarta - Praktisi hukum Todung Mulya Lubis juga bersuara minor atas suksesnya tiga pengemplang BLBI ratusan miliar rupiah menembus Istana Kepresidenan pada Senin lalu. Insiden itu sangat melukai perasaan rakyat."Ini bukan suatu preseden yang baik buat kita," kata Todung menjawab pertanyaan wartawan seusai acara Pertemuan Nasional Jaringan Pemantauan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Daerah yang diadakan Indonesia Procurement Watch di Hotel Melia Purosani Jl Suryotomo, Yogyakarta, Kamis (9/2/2006).Menurut Todung, proses hukum debitor nakal tersebut harus terlebih dulu diselesaikan. Namun apabila kemudian diringankan hukumannya, hal itu tidak menjadi masalah. "Silakan saja, kita bisa terima. Apalagi ada niat baik untuk mengembalikan. Tapi menerima mereka masuk ke Istana, itu penghargaan yang terlalu berlebihan," tegas Todung.Selama itu, kata Todung, para debitor nakal itu sudah menyengsarakan rakyat. Tiba-tiba saja mereka bisa diterima di Istana. "Itu bukan suatu pendidikan yang baik untuk masyarakat," kritik Todung.Todung mengatakan berdasarkan hukum pidana, pengembalian uang itu tidak akan menghilangkan unsur tindak pidananya. "Jadi tidak bisa serta merta dihilangkan begitu saja. Itu bukan pendidikan hukum yang baik. Seolah-olah korupsi itu dapat diputihkan dengan mengembalikan uangnya dan diterima di Istana. Ini melukai perasaan rakyat banyak," demikian Todung.
(nrl/)











































