Konflik MA & KY Hanya Untungkan Hakim Nakal
Kamis, 09 Feb 2006 13:10 WIB
Yogyakarta - Praktisi hukum Todung Mulya Lubis merasa prihatin atas konflik yang terjadi antara Mahkamah Agung (MA) dengan Komisi Yudisial (KY). Tindakan saling melaporkan kepada polisi yang dilakukan anggota kedua lembaga itu menunjukkan bila di lembaga penegakan hukum terjadi krisis. "Ini membuat rakyat bingung. Bila lembaga tinggi berbuat seperti itu, rakyat akan melecehkan lembaga tinggi penegakan hukum," kata Todung kepada wartawan seusai acara Pertemuan Nasional Jaringan Pemantauan Pengadaan Barang dan jasa Pemerintah Daerah yang diadakan Indonesia Procurement Watch di Hotel Melia Purosani Jl Suryotomo, Yogyakarta, Kamis (9/2/2006).Todung meminta kepada semua pihak termasuk hakim agung Artidjo dan Komisi Yudisial untuk saling menahan diri, mencari solusi dan jalan terbaik penyelesaian. Sebab bila konflik ini berkepanjangan yang untung adalah mafia peradilan. "Yang untung itu adalah hakim-hakim yang nakal," katanya.Padahal, katanya, tujuan mendirikan Komisi Yudisial itu untuk mengawasi para hakim, untuk ikut membangun sistem penegakan hukum yang lebih adil dan lebih transparan. Apabila mereka terlibat konflik berkepanjangan maka tujuan membangun sistem penegakan hukum yang lebih bersih tidak akan tercapai. "Saya prihatin kalau tidak ada yang berjiwa besar. Mari kita lihat lagi tujuan pendirian Komisi Yudisial itu. Kamarahan-kemarahan mereka saat ini menurut saya akan sangat merugikan Komisi Yudisial dan MA," demikian Todung.
(nrl/)











































