Aung San Suu Kyi Ditahan, RI Minta Semua Pihak di Myanmar Tahan Diri

Tim Detikcom - detikNews
Senin, 01 Feb 2021 13:40 WIB
gedung Pancasila di Kemlu
Foto: dok Kemlu
Jakarta - Myanmar tengah bergejolak usai tokoh politik Aung San Suu Kyi ditahan oleh militer. Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu) menyampaikan turut prihatin terkait peristiwa politik di Myanmar dan meminta semua pihak di Myanmar untuk menahan diri dan mengutamakan dialog.

"Indonesia sangat prihatin atas perkembangan politik terakhir di Myanmar," tulis Kementerian Luar Negeri dalam akun Twitter resminya @kemlu_RI, Senin (1/2/2021).

Lebih lanjut, Indonesia mengimbau pihak di Myanmar mengedepankan penggunaan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Piagam ASEAN, diantaranya komitmen pada hukum, kepemerintahan yang baik, prinsip-prinsip demokrasi dan pemerintahan yang konstitusional. Indonesia menilai perselisihan terkait pemilu dapat diselesaikan dengan mekanisme hukum yang ada.

"Indonesia mendesak semua pihak di Myanmar untuk menahan diri dan mengedepankan pendekatan dialog dalam mencari jalan keluar dari berbagai tantangan dan permasalahan yang ada sehingga situasi tidak semakin memburuk," ujarnya.

Sebelumnya, Myo Nyunt, juru bicara Partai Liga Demokrasi Nasional (NLD) yang menaungi Suu Kyi dan kini berkuasa di Myanmar, menyatakan Suu Kyi dan beberapa tokoh senior pemerintahan, termasuk Presiden Win Myint, ditahan oleh militer Myanmar. Mereka ditahan di ibu kota Naypyitaw sejak Senin (1/2) dini hari.

Militer Myanmar dalam pernyataan via saluran televisi mereka, Myawaddy TV, mengumumkan penetapan masa darurat dan pengambilalihan kekuasaan untuk setahun ke depan. Militer Myanmar juga mengumumkan bahwa kekuasaan diserahkan kepada Panglima Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Senior Min Aung Hlaing.

Saluran telepon dan koneksi internet di ibu kota Naypyitaw dan kota pusat komersial, Yangon, mengalami gangguan parah usai Suu Kyi ditahan. Tentara-tentara Myanmar, menurut warga setempat, tampak berjaga di beberapa posisi di balai kota Yangon.

Suu Kyi merupakan pahlawan demokrasi di Myanmar, yang pernah menjadi tahanan politik selama dua dekade di mana dia menjadi tahanan rumah. Dia juga anak dari tokoh kemerdekaan Myanmar yang tewas dibunuh, Aung San, yang juga dijuluki sebagai Bapak Bangsa Myanmar.

Sejak partainya, NLD, menang dalam pemilu tahun 2015, Suu Kyi menjadi pemimpin de-facto Myanmar dan menempati jabatan Penasihat Negara (State Counsellor) -- jabatan yang diciptakan untuknya sebagai jalan keluar dari konstitusi yang melarangnya menjadi Presiden Myanmar.

Reputasi internasional Suu Kyi tercoreng dalam beberapa tahun terakhir dengan adanya tuduhan genosida terhadap warga etnis minoritas Muslim, Rohingya. Myanmar menyanggah tuduhan genosida dan bersikeras mengklaim bahwa operasi militer di Rakhine -- tempat tinggal Rohingya -- menargetkan para teroris.



(yld/imk)