Tak Berjilbab, Eti Kurniawati Akan Pakai Rok Panjang di MAN Toraja

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Senin, 01 Feb 2021 11:13 WIB
Guru MAN Tana Toraja pertama yang tidak menggunakan hijab (dok. Istimewa).
Guru MAN Tana Toraja pertama yang tidak menggunakan hijab. (dok. Istimewa)
Tana Toraja - Guru wanita pertama di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Tana Toraja, Eti Kurniawati, mengatakan akan menghargai perbedaan keyakinan orang lain meski tak berhijab. Eti Kurniawati mengaku akan memakai rok panjang saat mengajar di MAN tersebut.

"Karena lingkungan tempatku nanti semua pada pakai jilbab, maka saya harus beradaptasi dengan menggunakan baju lengan panjang dan rok panjang pula," kata Eti Kurniawati dalam keterangan resmi di situs Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Selatan (Sulsel) seperti dikutip pada Senin (1/2/2021).

Eti Kurniawati merupakan guru CPNS beragama Kristen yang ditugaskan mengajar pelajaran geografi di sekolah berbasis Islam tersebut. Dia baru menerima SK pengangkatan sebagai guru CPNS pada 19 Januari lalu.

"Awalnya saya kaget ketika menerima SK dan mengetahui bahwa saya ditempatkan di MAN Tana Toraja. Saya pikirnya akan ditempatkan di sekolah umum sesuai agamaku," ujar Eti Kurniawati, yang merupakan alumni Universitas Negeri Makassar.

Meski akan mengajar di sekolah yang berbasis Islam, Eti Kurniawati mengaku akan beradaptasi dengan lingkungannya.

"Karena saya yakin ini adalah rencana Tuhan dalam hidup saya, maka akan saya jalani sebaik mungkin dan berusaha beradaptasi dengan lingkungan yang baru nantinya," kata Eti Kurniawati.

Sementara itu, Analis Kepegawaian Kemenag Sulsel Andi Syaifullah menyebut penempatan Eti Kurniawati sebagai guru CPNS beragama Kristen di MAN Tana Toraja sejalan dengan Peraturan Menteri Agama RI tentang pengangkatan guru madrasah, khususnya yang tertera pada Bab VI pasal 30.

"PMA Nomor 90 Tahun 2013 telah diperbarui dengan PMA Nomor 60 Tahun 2015 dan PMA Nomor 66 Tahun 2016, di mana pada Bab VI pasal 30 dicantumkan tentang standar kualifikasi umum calon guru madrasah (khususnya pada poin a), yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak disebutkan bahwa harus beragama Islam," jelas Andi.

"Kan guru nonmuslim yang ditempatkan di madrasah ini akan mengajarkan mata pelajaran umum, bukan pelajaran agama. Jadi saya pikir tidak ada masalah. Bahkan ini salah satu manifestasi dari moderasi beragama dimana islam tidak menjadi eksklusif bagi agama lainnya," lanjutnya.

Simak juga video 'Survei FSGI: Sekolah Tatap Muka Jadi Buah Simalakama Bagi Guru':

[Gambas:Video 20detik]



(nvl/imk)