Pungutan 100 Riyal/Jamaah Haji Versi Badruddin
Kamis, 09 Feb 2006 09:07 WIB
Madinah - Ketua Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Al Badriyah H Badruddin menyampaikan klarifikasi terhadap kasus pungutan 100 Riyal per jamaah haji kloter 58 JKG. Dia mengaku pungutan tersebut sesuai kesepakatan para ketua rombongan (Karom). Badruddin juga mengaku tidak melakukan negosiasi dengan Majmuah agar kloter 58 JKG mendapat hotel yang dekat dengan Masjid Nabawi. Badruddin mengklarifikasi, karena selama ini dirinya dipojokkan dengan kasus pungutan 100 Riyal. "Jadi seakan-akan saya yang memungut uang ini, padahal ini sesuai kesepakatan dengan para karom," kata Badruddin di Kantor PPIH Daker Madinah, Jl. Airport, Madinah, Kamis (9/2/2006) dini hari. Menurut Badruddin, semenjak di tanah air, beberapa KBIH telah mendatangi dirinya dan meminta agar menjadi 1 kloter. Mereka bersepakat untuk mencari hotel di Madinah yang dekat dengan Masjid Nabawi. "Bukan saya yang berinisiatif, tapi para ketua karom. Bahkan, merekalah yang mendatangi saya saat masih di Jakarta agar berada dalam 1 kloter. Bukan saya yang mengajak mereka," kata dia. Sejak di tanah air, Badruddin sudah mengetahui bahwa jamaah haji kloter 58 JKG ini akan ditempatkan di penginapan di bawah Majmuah Al Abror. Namun, apa nama penginapannya, belum diketahui. Lantas, menurut dia, karena jamaah menginginkan kepastian nama hotel, saat berada di Makkah, Badruddin pun mencari informasi ke Madinah. Nah, untuk mencari informasi ke Madinah inilah, kata Badruddin, para ketua karom bersepakat untuk memungut uang 100 Riyal per jamaah. Uang ini digunakan sebagai pembayaran jasa bagi Badruddin untuk bolak-balik Makkah-Madinah. "Jadi, saya hanya mencari informasi. Saya tidak pernah mengatakan melakukan negosiasi," ujar dia. Untuk mengetahui di hotel mana kloter 58 JKG menginap, Badruddin mengaku bolak-balik Makkah-Madinah selama tiga kali dengan menggunakan pesawat. Di Madinah, Badruddin menemui pimpinan Majmuah Al Abror. Dari Majmuah inilah, Badruddin mendapat informasi bahwa jamaah haji kloter 58 JKG menginap di dua hotel bagus di dekat Masjid Nabawi, Hotel Rawdet Mubarak dan Hotel Al Asyraq. "Saya datang ke Majmuah untuk silaturahmi, bukan negosiasi. Saya tidak ada tawar menawar dengan Majmuah mengenai hotel itu," kata Badruddin. Karena itulah, Badruddin mengaku, bahwa dua hotel itu yang digunakan tempat menginap jamaah haji kloter 58 JKG ini bukan atas negosiasi dirinya. "Ya memang bukan hasil upaya negosiasi saya, karena saya tidak melakukan negosiasi," ujar dia. Apakah uang pungutan itu tidak terlalu besar hanya untuk mengongkosi perjalanan Badruddin Makkah-Madinah? Menurut Badruddin, hal itu sudah disepakati para karom. "Jadi, uang pungutan itu untuk membayar jasa saya pribadi, karena saya kenal dengan Majmuah dan mendapatkan informasi tentang itu," ungkap dia. Saat ditanya informasi yang diterima jamaah haji kloter 58 JKG bahwa uang itu digunakan untuk negosiasi dengan Majmuah, Badruddin menyalahkan para karom. "Itu terserah karom yang menginformasikan kepada jamaahnya. Jamaah itu kan terserah sama karom. Yang jelas, saya tidak pernah menyatakan bahwa saya melakukan negosiasi," jelas dia. Badruddin juga mengaku tidak pernah menakut-nakuti bahwa kloter JKG 58 akan mendapat penginapan sejauh 4 km dari Masjid Nabawi. Ketika didesak apakah dirinya akan menginformasikan hal sebenarnya tentang masalah hotel ini kepada jamaah kloter 58, JKG Badruddin mengaku tidak berwenang. Menurut dia, itu merupakan kewenangan karom untuk menjelaskan kepada para jamaahnya. Karena itulah, Badruddin tidak mau disalahkan seorang diri dalam kasus ini. Sebab, hal ini sudah menjadi kesepakatan para ketua karom. Dia juga membantah bahwa dirinyalah yang berinisiatif dan mengkoordinasi pungutan ini. Badruddin juga membantah ada deal-deal pembagian uang hasil pungutan jamaah itu kepada para karom. Tentu, pengakuan Badruddin ini berbeda dengan pengakuan Ketua KBIH Azphem, H Lutfie. Sebelumnya, Lutfie mengaku bahwa uang itu digunakan sebagai negosiasi kepada majmuah. Luthfie juga mengklaim bahwa Badruddin-lah yang berinisiatif dan mendekati para ketua karom. Mana yang benar? Siapa yang bohong? Sementara itu, saat dikonfirmasi bahwa dirinya pernah mengancam ketua kloter 58 JKG agar menuruti kemauan KBIH yang dipimpinnya, Badruddin membantahnya. Sebelumnya, Ketua Kloter 58 JKG H Sodiqin mengaku pernah diancam oleh Badruddin cs agar tidak macam-macam. Bila macam-macam, Sodiqin diancam akan dikeluarkan dari hotel tempat menginap. "Saya tidak pernah menyatakan itu," kata dia.
(asy/)











































