Yenny Wahid Cerita Gus Dur Pernah Jadi Pekerja Migran Saat Kuliah di LN

Tiara Aliya - detikNews
Minggu, 31 Jan 2021 15:41 WIB
Jakarta - Putri ke-3 Gus Dur, Yenny Wahid, mengenang sosok ayahnya yang lekat dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI). Yenny mengungkapkan kepedulian ini tumbuh lantaran sang ayah pernah menjadi pekerja migran selama berkuliah di luar negeri.

"Gus Dur itu kenapa dekat dengan pekerja migran? Karena dulu dia juga pekerja migran pada waktu beliau masih mahasiswa, walaupun dulu statusnya part timer," kata Yenny di acara Peresmian Masjid dan Aula KH Abdurrahman Wahid di Kantor BP2MI, Jakarta, Minggu (31/1/2021).

Yenny mengungkapkan saat itu berbagai bidang pekerjaan digeluti oleh Gus Dur. Semua ini dilakukan demi mencukupi kebutuhan sehari-harinya selama menimba ilmu di luar negeri.

"Tapi dulu Gus Dur kuliah di luar negeri tahun '60-an sebelum ketemu ibu saya. Beliau dapat beasiswa karena Gus Dur dari kecil sudah di tinggal ayahnya. Jadi ibunya harus hidupin anak-anaknya sendiri jadi alhamdulillah otaknya encer akhirnya dapat beasiswa ke LN tapi beasiswa hanya mencakup uang kuliah. Untuk sehari-hari harus cari sendiri," ucapnya.

Mulai dari menjadi tukang pemecah batu hingga membersihkan geladak kapal telah dijajal oleh Gus Dur. Hal inilah yang membuat permasalahan PMI menjadi fokus utama Gus Dur selama menjabat Presiden RI ke-4.

"Gus Dur akalnya banyak, jadi kerja macam-macam mulai dari kerja di laundry, binatu waktu itu bosnya orang Yahudi di sana. Kemudian pernah juga jadi tukang bersihkan geladak kapal di Belanda, pernah juga tukang pecah batu, macam-macamlah pekerjaan Gus Dur waktu itu demi bisa dapat uang," ucapnya.

"Jadi persoalan pekerja migran tentu sesuatu yang pernah dirasakan beliau sehingga tidak heran ketika beliau menjabat sebagai Presiden RI hal itu menjadi salah satu fokus utama beliau," sambungnya.

Yenny juga menyatakan ayahnya selalu mengutamakan kesejahteraan rakyat selama memimpin negara Indonesia. Hal ini dibuktikannya melalui produk-produk kebijakan yang menjunjung prinsip islamiah.

"Mengingat beliau datang dari NU sehingga prinsip islam sangat erat sekali, dipegang dalam tata kelola pemerintahannya. Kebijakan seorang pemimpin harus mengacu kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya," ujarnya. (mae/mae)