Cerita Korban Gempa di Majene: Berhari-hari Kehujanan di Pengungsian

Abdy Febriady - detikNews
Sabtu, 30 Jan 2021 20:56 WIB
Para pengungsi korban gempa Sulbar (Abdy Febriady/detikcom)
Para pengungsi korban gempa Sulbar (Abdy Febriady/detikcom)

Selama mengungsi di perbukitan, Eka mengungkapkan beratnya penderitaan yang dirasakan. Tenda yang digunakan juga sering roboh karena tertiup angin dan hujan.

"Selama di pengungsian kita di tenda, sempat kehujanan karena tenda roboh," ucapnya.

Bersama pengungsi lainnya, ia meminta perhatian pemerintah agar segera pulang. Menurutnya, tenda merupakan barang yang saat ini sangat dibutuhkan untuk membangun hunian sementara bersama keluarganya. "Kita berniat pulang, tapi tunggu kondisi aman. Kita masih takut. Kita akan tinggal di tenda pengungsian kalau sudah aman dan ada bantuan dari pemerintah," ungkap Eka.

Koordinator Relawan Pengungsi SMAN Tinambung Muhammad Yusuf mengungkapkan, sejak lokasi pengungsian dibuka, jumlah pengungsi yang datang terus bertambah. Mulanya, hanya ada 18 keluarga saja yang ada di pengungsian SMAN Tinambung.

"Ini sudah hari ke-14, sejak pertama kali dibuka, pengungsi sudah mulai berdatangan. Awalnya hanya 18 keluarga yang terdiri atas 80 orang, semakin hari bertambah, kini jadi 44 keluarga sebanyak 167 jiwa," ucap Yusuf.

Diketahui, gempa berkekuatan M 6,2 mengguncang Kabupaten Majene dan Kabupaten Mamuju, Jumat (15/1). Dalam peristiwa itu, ada 105 korban jiwa dan ribuan orang mengungsi.


(man/man)