Kolom Hikmah

Imunitas Para 'Alim

Abdurachman - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 11:45 WIB
Abdurachman, guru besar UNair
Foto: Dokumen pribadi
Jakarta -

Ketika Kyai Haji (K.H.) Idham Chalid, pimpinan Pengurus Besar Nahdlatul 'Ulama (PBNU) bersama tokoh Muhmmadiyah Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) dalam satu kapal, muncullah peristiwa yang menabur kisah tauladan. Para beliau bersama di dalam perjalanan menuju Mekkah al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah haji.

Perjalanan yang istimewa, berikut kisahnya;

  • Pada saat shubuh datang, seluruh jemaah baik Nadliyin mau pun Muhammadiyah sudah bersiap-siap menjadi makmum. Rupanya K.H. Idham Chalid yang dipersilakan maju untuk mengimami.
  • Pada rakaat pertama tidak ada yang istimewa. Tiba setelah ruku' lalu i'tidal pada raat kedua, Idham Chalid yang biasanya membaca doa qunut sebelum sujud, pada saat itu beliau tidak membaca doa itu. Padahal, sebagaimana seluruh jemaah Nadliyin mafhum kalau doa qunut di rakaat kedua shubuh dihukumi sunnah muaqqadah (sunnah yang dikuatkan).
  • Seluruh makmun tertib mengikuti imam dengan baik. Tak ada satu pun yang melanggar, walau mungkin banyak yang merasakan ada suatu yang bukan biasa. Sampai akhir shalat tiba, Buya Hamka membuka percakapan, "Pak Kyai, mengapa Pak Kyai Idham Chalid tadi tidak membaca qunut?"
  • Dengan tenang Kyai Idham Chalid menjawab,"Saya tidak membaca doa qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tidak mau memaksa orang yang tidak berqunut untuk ikut berqunut." Buya Hamka terdiam.

  • Pada hari kedua giliran Buya Hamka mengimami shalat shubuh. Tepat setelah ruku' pada rakaat kedua, tiba-tiba Buya Hamka mengangkat kedua tangannya membaca doa qunut shubuh dengan fasih.

Padahal di kalangan pengikut organisasi Muhammadiyah, pada shalat shubuh, semua mereka hampir tidak pernah membaca doa qunut.

Shalat shubuh selesai. Kali ini Kyai Idham Chalid giliran bertanya kepada Buya Hamka, "Mengapa Pak Hamka membaca doa qunut saat mengimami shalat shubuh tadi?"

  • Buya Hamka pun menjawab dengan tenang, "Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid, tokoh NU yang biasa berqunut saat shalat shubuh. Saya tidak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut," ujarnya merendah.

Tampak di depan sekian pasang mata para jemaah shalat shubuh ketika itu, kedua tokoh besar ulama tersebut saling berpelukan tanda keakraban. Air mata para jemaah hampir menetes. Pemandangan yang sungguh mengharukan.
Tampak kebesaran pribadi-pribadi agung, yang bukan memecah belah. Tetapi malah saling membuang ego masing-masing, bersatu dalam ukhuwah Islamiyah. Gambaran tingkat keilmuan para 'alim, yang membawa dampak persaudaraan sejati.


Gambaran Uulul Albaab

Dinding rumah yang ditimpa cahaya bulan melalui genteng kaca pada sebuah rumah yang belum berfasilitas listrik meneguk kisah menarik. Anggota keluarga yang masih kelas satu Sekolah Dasar (SD) menduga bahwa dinding itulah yang bercahaya. Sementara kakaknya berkata bahwa genteng kacalah yang bercahaya. Kakak yang lebih besar lagi tahu kalau bulanlah yang bercahaya. Sedangkan kakak satunya lagi faham bahwa mataharilah yang menimpakan cahaya kepada bulan. Tentu yang paling berilmu adalah yang menyampaikan bahwa segala sumber cahaya adalah Tuhan Sang Maha Pencipta Semesta ini.

Itulah sekelumit tingkatan ilmu seorang awam, lebih 'alim, lebih tinggi ke'alimannya sampai kepada tingkat uulul albaab, ialah yang langsung menisbahkan sumber dari segala sumber, ialah Tuhan.

Para 'alim dipuji oleh Allah swt. melalui Quran Surat (QS) al-Imran (3) ayat (26). Di dalam ayat itu ulama diurutkan setelah menyebut kesaksian tauhid; Allah swt., para malaikat, lalu para 'alim. Para 'alim yang paling 'terang' ilmunya dikenal dengan sebutan uulul albaab (QS 3:190-191). Mereka memiliki ciri-ciri selalu mengingat Allah dalam segala kondisi. Boleh jadi sebagian maknanya adalah, dalam situasi apa pun, kondisi apa pun, dalam menatap, mendengar dan memikirkan apa pun, para uulul albaab selalu mengaitkan langsung kepada Allah swt. sebelum melihat sebab-sebab selain-Nya.

Dengan kealimannya, mereka mampu sangat mengenal sifat-sifat Allah swt. Pengenalan yang mendorongnya mencapai kekhusyuan tingkat tinggi (QS. 35:28). Mereka tergolong orang-orang yang selalu khusyu dalam shalatnya. Ialah orang-orang yang mampu "berjumpa" dengan Allah di dalam shalatnya (QS. 2: 45-46). Mereka adalah orang-orang yang selalu melakukan amal-amal shaleh, yang diniatkan mengharap ridlo Allah semata. Tidak menyekutukan Allah swt. dengan apa pun dan siapa pun (QS. 18:110)

Orang-orang yang selalu mengingat Allah swt. inilah yang tergolong orang-orang yang memiliki suasana hati selalu tentram (QS. 13:28). Ketentraman hati yang di banyak publikasi ilmiah terindeks internasional berdampak pada optimalnya tingkat imunitas. Kondisi imunitas yang mampu dengan aman menghadapi segala ancaman infeksi apa pun, termasuk infeksi virus.

Mereka sangat sulit diprovokasi, kebal terhadap segala bentuk adu domba yang membawa pertengkaran, perpecahan dan hilangnya kekuatan (QS. 8:46). Para uulul albaab adalah orang-orang yang memiliki tingkat ketakwaan sangat tinggi. Mereka memiliki pengetahuan yang sangat jernih, bersih dari keraguan sehingga dengan mudah mampu menilai mana informasi hoax dan mana yang sahih. Mereka mampu memilah dengan cermat mana yang haq dan mana yang bathil, melalui bimbingan langsung dari Allah swt. (QS 2:282).

Kalau demikian maka wajar, bila kita semua wajib berusaha menggapai kondisi uulul albaab. Bukan hanya untuk memampukan diri menghadapi pandemik, infeksi virus, tetapi juga mengunggulkan diri untuk selalu benar dalam melangkah, melalui bimbingan langsung dari Allah swt.

Juga agar mampu imun terhadap segala penyakit, imun terhadap segala provokasi pecah-belah. Mampu menuju jalan keluar dari situasi apa pun dengan mudah, termasuk jalan keluar dari segala bentuk bencana melalui seluruh fasilitas istimewa dari Tuhan (QS. 65:2-4).

Mereka yang bisa dicontoh sebagai bagian dari para uulul albaab adalah K.H. Idham Chalid dan Buya Hamka. Wa Allaahu a'lam.

Abdurachman


Penulis adalah Guru Besar Fakulas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)