Hidayat Nur Wahid Keluarkan Rapor Pers Nasional
Rabu, 08 Feb 2006 17:37 WIB
Bandung - Hidayat Nur Wahid saat ini memang dikenal sebagai ketua MPR RI dan politisi dari PKS. Tapi saat ini dia punya profesi lain, yakni sebagai pengamat media. Kok bisa? Saat ini Hidayat Nur Wahid pun jago mengomentari perkembangan dunia pers. Bahkan dia sempat-sempatnya mengeluarkan rapor mengenai perkembangan dunia pers nasional.Rapor pers nasional disampaikan Hidayat saat menghadiri acara konvensi nasional media massa se Indonesia 2006 di Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika, Bandung, Rabu(8/2/2006). Dalam rapor tersebut, Hidayat memberikan sejumlah penilaian terhadap dunia pers nasional. Sejumlah penilaian negatif masih mewarnai dalam rapor tersebut. Antara lain, masih maraknya media yang berbau pornografi, wartawan yang menerima amplop dan wartawan sekaligus sebagai preman. "Standar profesi jurnalis itu belum ada. Ini menimbulkan peluang bagi penyalahgunaan dan manipulasi terhadap profesi jurnalis," kata Hidayat. Ia menilai dunia profesionalisme pers di negeri ini sangat sulit diukur meskipun sudah ada UU No 40 Tahun 1999 perihal Pers dan kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI).Salah satunya, tidak jarang ia menjumpai aktivis pers yang menolak amplop tapi masih menerima souvenir dari narasumbernya. Selain itu, wartawan juga sering terjebak dengan perilaku mengopi berita dari sesama wartawan lainnya. "Tapi informasi yang penting sudah berjalan dengan cepat. Laporan-laporan sudah menarik, relatif akurat. Khususnya berita-berita dari daerah konflik,"ungkapnya.Ia juga menuturkan tidak sedikit dari lembaga-lembaga jurnalis profesional saat ini yang telah mengadakan pendidikan dan pelatihan bagi para wartawan. Pelatihan tersebut, menurutnya, sangat baik untuk meningkatkan mutu reportase wartawan.Selain itu, saat ini juga ada kecenderungan baik di mana media yang mulai dan menggarap laporan yang bersifat mendalam. "Tapi kriminalisasi dan ancaman terhadap wartawan masih tinggi. Perlindunganhukumnya belum memadai. Jadi kerja bagi mereka tidak ringan,"ungkapnya tegas.Hidayat juga berharap agar anggaran yang disediakan oleh lembaga-lembaga negara agar dihapuskan. Anggaran tersebut tidak beralasan dan dapat membeli independensi wartawan.
(iy/)











































