Indonesia Galang Dukungan Tolak Travel Warning
Rabu, 08 Feb 2006 17:50 WIB
Yogyakarta - Travel warning sangat mempengaruhi arus wisatawan asing ke negara-negara di Asia. Indonesia berniat menggalang dukungan untuk menolaknya.Hal itu diungkapkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik dalam acara International Conference on Culture Tourism and Local Communities (ICCTLC) di Hotel Hyatt Regency di Jl Palagan Tentara Pelajar, Yogyakarta, Rabu (8/2/2006)."Pemerintah Indonesia bersama negara-negara lain di Asia sedang menyiapkan gerakan untuk menolak adanya travel warning dari negara lain. Munculnya travel warning dari negara-negara Eropa dan Amerika Serikat sangat mempengaruhi masuknya arus wisatawan mancanegara ke Asia," katanya.Wacik mengakui adanya travel warning adalah kebijakan politis dari menteri luar negeri suatu negara. Namun kebijakan itu berimbas pada negara-negara yang mendapat peringatan. "Saat ini, negara-negara di Asean dan beberapa negara lainnya di Asia berusaha mendesak untuk menolak adanya travel warning itu," katanya.Selain menolak adanya travel warning, katanya, Indonesia berusaha melakukan promosi pariwisata. Untuk tahun 2006 ini anggaran promosi pariwisata dari dana APBN mengalami peningkatan dari 6 juta dolar menjadi 10 juta dolar AS. Menurut Wacik, konsep promosi wisata juga harus diubah. Bukan lagi dengan cara berpromosi atau beriklan saja. Namun juga dengan cara mengundang para jurnalis asing untuk datang ke Indonesia. Mereka selama beberapa hari diajak mengunjungi tempat-tempat wisata di Indonesia seperti di Jakarta, bandung, Yogyakarta dan Bali. "Istilahnya seeing is believing. Sehingga kalau sudah melihat dia akan tahu, ternyata di Yogyakarta tidak apa-apa atau aman dan layak untuk dikunjungi," tegas Wacik.Tidak hanya travel warning saja, kata Wacik, akibat pemberitaan tsunami di berbagai media di luar negeri ternyata orang asing beranggapan Indonesia sudah habis. Padahal yang terjadi tsunami hanya di Aceh saja. Mereka menganggap Indonesia sudah habis padahal tidak tahu Indonesia itu sangat luas. "Persepsi seperti itu juga harus diubah karena persepsi sering lebih besar daripada kejadian sebenarnya. Kita harus membantah dengan cara mengundang jurnalis asing untuk melihat langsung di Indonesia aman atau tidak, termasuk menggelar konferensi internasional seperti saat ini," katanya.
(nrl/)











































