ACT Siap Kirim Kapal Bawa 1.000 Ton Logistik buat Korban Gempa Sulbar

Erika Dyah - detikNews
Selasa, 26 Jan 2021 20:42 WIB
ACT
Foto: ACT
Jakarta -

Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan mengirim kapal kemanusiaan untuk korban gempa bumi di Sulawesi Barat (Sulbar). Kapal kemanusiaan ACT akan membawa 1.000 ton bantuan pangan dan logistik yang dihimpun dari publik.

Presiden ACT Ibnu Khajar menjelaskan usai terjadinya gempa berkekuatan 6,2 M, puluhan ribu masyarakat terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Menurutnya kondisi para pengungsi tidak hanya serba kekurangan, tetapi terancam paparan virus COVID-19.

Untuk itu ia menilai perlunya kolaborasi yang kuat dalam memenuhi kebutuhan para korban gempa di Sulbar. Ibnu mengungkap kapal kemanusiaan untuk Sulbar merupakan wujud kolaborasi besar kedermawanan masyarakat Indonesia. Kapal kemanusiaan ini akan bertolak secara berkala dari tiga lokasi berbeda, yaitu Jakarta, Sumatera, dan Surabaya.

Ia merinci ikhtiar untuk 'Bergerak Bersama Selamatkan Bangsa' dalam kapal kemanusiaan ini akan membawa 500 ton beras yang dikumpulkan dari Lumbung Pangan Wakaf (LPW) Global Wakaf ACT dan 500 ton sisanya terdiri dari air minum wakaf, pangan, selimut, dan kebutuhan logistik para korban bencana.

"Di tahap awal terjadinya bencana, kami pastikan semua tim hadir. Proses penguasaan teritorial wajib dilakukan untuk melihat seberapa besar dan luas bencana ini terjadi, seberapa banyak kerusakan dan korban yang terjadi, titik-titik pengungsian ada di mana saja," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (26/1/2021).

"Kedua, kami siapkan dan aktivasi semua posko-posko bantuan, agar sampai langsung ke masyarakat-masyarakat yang membutuhkan. Lalu kehadiran kapal kemanusiaan ini akan memperkuat agenda pendistribusian bantuan yang meluas ke masyarakat terdampak," imbuhnya.

Lebih lanjut Ibnu menjelaskan kapal kemanusiaan untuk Sulbar diperkirakan berangkat dalam sepekan atau dua pekan ke depan. Pada kurun waktu tersebut Ibnu mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama-sama mendukung keberangkatan Kapal Kemanusiaan.

"Kami akan mengirimkan kapal kemanusiaan ke Majene dan Mamuju dari tiga titik. Insyaallah 1.000 ton akan kami kirimkan dari pelabuhan Tanjung Priok, cabang-cabang ACT di Jawa Barat, Banten, dan Jakarta," ujarnya.

"Lalu, kami juga akan mengirimkan 1.000 ton kapal kemanusiaan dari ACT cabang Sumatera juga, dari Medan. Kami juga mengirimkan 1.000 ton dari pelabuhan Tanjung Perak, Jawa Timur dan cabang kami di DI Yogyakarta."

"Semua bantuan akan kami kirimkan ke lokasi bencana di Majene dan Mamuju. Semua insyaallah akan kami berangkatkan pada akhir Januari," urai Ibnu.

Ibnu menyampaikan kapal kemanusiaan akan bekerja sama dengan KRI TNI AL dalam perjalanannya. Sejalan dengan itu, ia menambahkan ACT akan terus menyiapkan relawan untuk beberapa jenis tahapan.

Pertama, relawan tanggap darurat, relawan untuk tahap relief, untuk persiapan logistik dan distribusi bantuan, dan terakhir relawan untuk pendampingan psikososial yang terdiri dari psikolog maupun para dai, untuk memberikan dukungan secara spiritual.

"Relawan-relawan ini akan menjalankan tugasnya masing-masing di berbagai tahapan. Sebelum keberangkatan, tentunya para relawan akan dilatih dan ditatar untuk memastikan kesiapan semua keahlian, mental, dan kesehatannya. Selain itu, juga kami pastikan untuk tetap mengikuti aturan protokol kesehatan untuk memastikan kerja relawan secara maksimal," jelas Ibnu.

Selain itu, Ibnu berpesan untuk bergerak bersama menyelamatkan bangsa dengan melayarkan kapal kemanusiaan. Sebab menurutnya, bangsa Indonesia adalah bangsa penggerak kebaikan, bangsa yang peduli, saling tolong menolong, dan membantu sesama. Ia pun mengajak untuk meringankan penderitaan para korban bencana melalui www.Indonesiadermawan.id.

Sebagai informasi, kapal kemanusiaan merupakan program masterpiece dari ACT. Pada tahun-tahun sebelumnya, kapal kemanusiaan telah mengirimkan bantuan ke berbagai wilayah. Di antaranya untuk gempa Lombok, gempa Palu, musibah kelaparan di Papua bahkan bantuan ke Palestina, Rohingya, hingga ke Somalia.

(ncm/ega)