Ramai Daging Sapi Mahal, Dubes Panama Tawarkan Impor dari Nikaragua

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 11:51 WIB
Dubes RI untuk Panama merangkap Honduras-Kosta Rika-Nikaragua, Sukmo Harsono (Dok. Sukmo Harsono).
Dubes RI untuk Panama merangkap Honduras-Kosta Rika-Nikaragua, Sukmo Harsono (Dok. Pribadi)
Jakarta -

Pedagang daging sapi sempat mogok 3 hari yang menyebabkan kelangkaan. Dubes RI untuk Panama merangkap Honduras-Kosta Rika-Nikaragua, Sukmo Harsono, menyebut Nikaragua bisa menjadi alternatif impor daging sapi sekaligus melepas ketergantungan impor dari Australia.

"Mogoknya pedagang akibat harga daging sapi terlalu tinggi adalah sebagai pressure bahwa ketergantungan impor sapi hidup atau daging beku dari Australia (dan India daging kerbau) serta pasokan dalam negeri yang belum stabil merugikan para user akhir," kata Sukmo Harsono dalam keterangannya, Senin (25/1/2021).

"Indonesia harus melihat potensi Nikaragua untuk menjadi sumber impor daging sapi beku. Nikaragua telah memantapkan dirinya sebagai pengekspor daging sapi terkemuka di Amerika Tengah. Daging sapi Nikaragua diakui sebagai salah satu daging dengan kualitas terbaik di Amerika Latin," imbuh Sukmo.

Sukmo Harsono menyebut Amerika serikat, Kosta Rika, Puerto Riko, Meksiko, El Savador, Guatemala, Jepang, Taiwan, merupakan negara pengimpor daging sapi dari Nikaragua. Dubes Panama menyebut pertukaran produk ekspor dari Indonesia ke Nikaragua juga sangat terbuka dengan dia menyebut kendala jarak sangat bisa diatasi.

"Selaku Dubes saya ingin ada peluang ekspor ke Nikaragua dengan kerja sama impor daging sapi dari Nikaragua dan melepas ketergantungan dari pemasok (asing) yang itu-itu saja, sehingga harga daging sapi di Indonesia lebih murah dan stabil," ucap Sukmo.

Pedagang daging sapi melakukan mogok jualan sejak Rabu (20/1) dan kembali berjualan pada Sabtu (23/1). Aksi mogok ini tak sepenuhnya diikuti seluruh pedagang sapi.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi sebelumnya menyebutkan aksi mogok pedagang sebagai imbas tingginya harga sapi hidup di Australia.

(gbr/tor)