Vonis Gembong 23 Kg Sabu dari Jakut Diperberat Jadi Penjara Seumur Hidup

Andi Saputra - detikNews
Senin, 25 Jan 2021 10:37 WIB
Ilustrasi narkoba/ ilustrasi sabu, ilustrasi barang bukti sabu
Ilustrasi Narkoba (Ari/detikcom)
Jakarta -

Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta memperberat hukuman Khairul Umam (31) dari 20 tahun penjara menjadi penjara seumur hidup. Umam dinilai terbukti menjadi anggota sindikat peredaran 23 kg sabu.

Hal itu tertuang dalam putusan PT Jakarta yang diunggah di wesbite Mahkamah Agung (MA), Senin (25/1/2021). Kasus bermula saat Umam bersama Hartadi Wijaya menerima paket 23 kg sabu dari kelompok Rudi Daulay.

Serah-terima dilakukan di sebuah pintu tol di Muara Karang. Paket sabu itu kemudian dia simpan di rumahnya dan menunggu arahan untuk diestafetkan ke orang lain.

Pada 17 Desember 2019, Umam diminta mengirimkan paket sabu itu ke Jalan Marina Raya, Jakarta Utara. Saat estafet itu dilakukan, aparat datang dan menggerebek. Umam dan Hartadi kemudian diproses hingga pengadilan. Sementara Hartadi meninggal dunia saat menjalani proses hukum.

Pada 16 November 2020, Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) menjatuhkan hukuman 20 tahun penjara kepada Umam. Selain itu, didenda Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan. Jaksa yang mengajukan tuntutan penjara seumur hidup tidak terima dan mengajukan permohonan banding.

"Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Khairul Umam alias Belek bin Nata Admaja dengan pidana penjara seumur hidup," kata ketua majelis Haryono dengan anggota Sugeng Hiyanto dan Achmad Yusak.

Alasan yang memperberat adalah perbuatan Umam dilakukan pada saat pemerintah sedang giatnya melaksanakan pemberantasan penyalahgunaan narkotika. Selain itu, perbuatan Umam merusak generasi muda dan meresahkan masyarakat.

"Maka pidana yang dijatuhkan pengadilan tingkat pertama (PN Jakut) adalah tidak patut, belum adil, dan tidak memenuhi tujuan pemidanaan," ujar majalis.

Penjara seumur hidup yang dijatuhkan kepada Umam diharapkan dapat mengubah perilaku Umam. Dan juga sebagai contoh bagi masyarakat lainnya supaya tidak berbuat serupa dengan Umam.

"Menetapkan supaya Terdakwa tetap ditahan. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara pada kedua tingkat peradilan yang untuk tingkat banding sebesar Rp 2.500," cetus majelis.

(asp/zak)