Kemenkes: Saat Divaksin, Bupati Sleman Kemungkinan dalam Masa Inkubasi COVID

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 17:31 WIB
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr Siti Nadia Tarmizi
Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dr Siti Nadia Tarmizi (Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Juru Bicara (Jubir) Pemerintah untuk Vaksinasi COVID-19, dr Siti Nadia Tarmizi, menyebut Bupati Sleman Sri Purnomo dalam kondisi baik saat ini. Dia mengatakan Sri Purnomo tengah menjalani isolasi mandiri.

"Kami sampaikan kondisi beliau baik dan tidak menunjukkan gejala apa pun, beliau usia hampir 60 tahun dan beliau sedang isolasi mandiri di rumah dinas," kata Siti Nadia saat jumpa pers di akun YouTube Setpres, Jumat (22/1/2021).

Siti mengatakan Sri Purnomo memang dinyatakan positif setelah menjalani penyuntikan vaksin COVID-19 pertama. Dia mengungkap kemungkinan saat vaksin pertama Sri Purnomo sudah terpapar dan tengah dalam masa inkubasi.

Siti menyebut hal itu kemungkinan terjadi jika melihat rentan waktu hasil swab dengan masa inkubasi.

"Bapak Sri Purnomo benar sudah melakukan vaksinasi COVID untuk suntikan pertama pada 14 Januari, namun beliau memang belum mendapatkan suntikan kedua. Kita ketahui bahwa vaksin Sinovac atau Coronavac adalah vaksin berisi virus mati. Jadi hampir tidak mungkin menyebabkan seseorang terinfeksi," ujarnya.

"Jika melihat rentan waktu dari bapak bupati maka sangat mungkin pada saat bapak Bupati divaksinasi beliau ini berada dalam masa inkubasi COVID di mana sudah terpapar virus COVID-19 tapi tidak menunjukkan gejala. Secara alamiah waktu antara paparan dan munculnya gejala itu adalah sedang tinggi-tingginya sekitar pada 5 sampai dengan 6 hari. Hal ini adalah waktu yang pas karena beliau divaksinasi pada tanggal 14 Januari sementara hasil pemeriksaan swab beliau positif di tanggal 20 Januari," lanjut Siti.

Lebih rinci, Siti kemudian menjelaskan dosis penyuntikan vaksin yang membutuhkan dua kali suntik. Suntikan pertama jelasnya hanya memicu kekebalan awal, di sini imun belum terbentuk. Kemudian suntikan kedua barulah antibodi imunitas terbentuk secara optimal.

"Kita ketahui bersama bahwa vaksinasi COVID membutuhkan 2 kali dosis penyuntikan, sebab sistem imun perlu waktu lewat paparan yang lebih lama untuk bisa mengetahui bagaimana cara efektif untuk melawan virus tersebut. Suntikan pertama dilakukan untuk memicu respons kekebalan awal yang selanjutnya akan dilanjutkan dengan suntikan kedua untuk menguatkan respons imun yang telah terbentuk. Hal ini memicu respons antibodi yang lebih cepat dan lebih efektif di masa yang akan datang," ujarnya.

"Suntikan kedua berfungsi sebagai booster untuk antibodi secara optimal dan imunitas ini baru akan terbentuk secara baik setelah 3 minggu setelah suntikan kedua," imbuh Siti.

Siti mengingatkan kemungkinan risiko terpapar COVID-19 masih akan terjadi meskipun sudah menjalani vaksinasi. Hanya, menurutnya, vaksin COVID-19 ini mengurangi potensi sakit berat.

"Untuk itu perlu dipahami bersama meskipun kita sudah divaksin COVID masih ada risiko terpapar virus COVID, namun tentunya diharapkan vaksin ini akan dapat mengurangi kemungkinan sakit berat," tutur Siti.

(eva/knv)