Istri Sembuh dari COVID, Gubernur Sulsel Akhirnya Disuntik Vaksin Sinovac

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 13:05 WIB
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah saat disuntik vaksin (dok. Istimewa).
Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah saat disuntik vaksin. (Foto: dok. Istimewa)
Makassar -

Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah disuntik vaksin Sinovac setelah batal disuntik vaksin karena memiliki kontak erat dengan penderita COVID-19, yakni istrinya Liestiaty F Nurdin. Kini istri Nurdin sudah sembuh dari COVID dan dia sudah memenuhi syarat untuk disuntik vaksin.

"Sebenarnya pada saat pencanangan (vaksinasi di Sulsel) saya pengin banget untuk (disuntik) vaksin, tapi karena istri masih positif, maka tidak bisa divaksin. Alhamdulillah istri sudah sehat, hari ini saya datang sendiri untuk mengambil (disuntik) vaksin," kata Nurdin kepada wartawan di Makassar setelah disuntik vaksin, Jumat (22/1/2020).

Sebelum disuntik vaksin, Nurdin diobservasi selama 30 menit oleh tim medis. Hasilnya Nurdin telah memenuhi syarat untuk disuntik vaksin.

"Dan tidak ada rasa sama sekali (setelah disuntik vaksin). Hanya rasa kayak digigit semut saja. Alhamdulillah," ujarnya.

Nurdin berharap warga Sulsel juga tidak takut disuntik vaksin nantinya. Dia menegaskan vaksinasi menjadi satu-satunya solusi melindungi warga dari paparan virus Corona.

"Satu-satunya solusi pandemi untuk melindungi kita semua adalah vaksin, yang kedua adalah happy. Mudah-mudahan ini adalah sesuatu yang baik bagi kita semua," tegasnya.

Saat ini tenaga kesehatan (nakes) di Kota Makassar, Kabupaten Maros, dan Kabupaten Gowa secara bertahap disuntik vaksin. Pemprov Sulsel menargetkan dalam sehari 300 nakes dapat disuntik vaksin.

"Mudah-mudahan akhir Maret seluruh nakes Sulawesi Selatan bisa selesai (disuntik vaksin)," imbuhnya.

Dia juga mengingatkan nakes dan warga untuk tidak menolak saat akan disuntik vaksin.

"Karena ini sudah uji coba klinis tiga kali dan uji klinis yang ketiga kali itu sudah mencapai 65 persen. Artinya sudah di atas standar WHO. Jadi kita harus percaya pemerintah," tuturnya.

(nvl/idh)