Kolom Hikmah

Ridha, Menjadikan Hati Tenang

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 22 Jan 2021 06:17 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Pada hari Sabtu tanggal 9 Januari 2021 sekitar pukul 14.40 WIB, pesawat Sriwijaya Air dari Jakarta menuju Pontianak kehilangan kontak. Musibah awal tahun dengan jatuhnya pesawat tersebut. Beberapa daerah mengalami longsor seperti di Kabupaten Sumedang dan wilayah Puncak yang sempat ditutup selama 10 jam. Disusul musibah gempa bumi di Sulawesi Barat, erupsi Gunung Semeru Jawa Timur, Gunung Sinabung Sumut, banjir bandang di Cisarua, banjir di Kalsel dan beberapa daerah lainnya. Seorang Ibu kehilangan anak dan suami, seorang suami kehilangan istri dan anak-anaknya. Ada keluarga yang kehilangan rumah karena longsor dan gempa, ada keluarga ditinggal sanak saudara yang tidak sempat menyelamatkan diri.

Bencana datang silih berganti, wabah yang belum menunjukkan tanda- tanda mereda, membuat manusia tak kuasa/merasa berat dengan beban tersebut. Oleh karenanya dengan sikap berserah diri pada Sang Pencipta, kita akan kuat menjalaninya. Mari kita simak tulisan M. Zaki Abdul Qadir (dimuat harian al-Akhbar, yang terbit di Kairo) sebagai berikut:

"Sesungguhnya percaya adanya Allah adalah hal yang dikehendaki oleh ilmu pengetahuan, bukan sebatas tuntutan agama. Ilmu pengetahuan tidak akan pernah sanggup menyeleseikan aneka problema dan penderitaan yang dialami oleh manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Betapa sering peristiwa tragis menimpa umat manusia dengan tiba-tiba, tanpa terlihat tanda-tanda sebelumnya. Dan dalam keadaan yang demikian maka satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berserah diri kepada kodrat dan kehendak Allah. Kalau sekiranya kita tidak berpijak pada landasan iman tentu kita tidak sanggup menanggungnya."

Menerima ketetapan Allah adalah bentuk keimanan seorang manusia/hamba. Dalam riwayat di bawah ini berkaitan dengan hal tersebut:

1. Imam Shadiq berkata, "Ibadah kepada Allah yang paling mulia adalah sabar, tabah dan tunduk terhadap perintah-Nya, baik suka ataupun tidak." Selanjutnya dia berkata, "Manusia yang paling bijak dalam pandangan Allah adalah yang paling ridha dan senang kepada-Nya.

2. Diriwiyatkan Imam Baqir, "Di antara makhluk Allah, orang yang paling ridha dengan Allah adalah ia yang mengenal Allah Yang Mahakuasa. Barang siapa ridha dengan kehendak Allah, menerima keputusan Allah, maka Allah akan menambahkan pahala baginya; dan barang siapa tidak menyukai keputusan Allah, kehendak Allah akan menundukkannya dan Allah akan menghapuskan pahalanya.

3. Nabi Muhammad SAW bertanya kepada sekelompok sahabat beliau, "Siapakah kalian?" Mereka menjawab, "Kami adalah orang-orang mukmin." Nabi SAW bertanya kembali, "Apa tanda dari iman kalian?" Mereka menjawab," Kami senantiasa sabar dalam cobaan dan bersyukur dalam kesenangan dan kelapangan, dan kami ridha dengan keputusan Allah." Beliau bersabda," Inilah Mukmin yang sebenarnya."

Ridha, kita artikan tidak menentang dari dalam maupun dari luar, dengan perkataan maupun dengan perbuatan, dan ridha adalah buah dari cinta dan kebutuhan. Seseorang yang mencapai keadaan ini merasa bahwa kemiskinan maupun kekayaan, ketenangan maupun kekacauan, hidup dan mati, terhormat dan hina, keberadaan dan tidak keberadaan, adalah semuanya sama. Sebab semua itu benar-benar dari Allah. Adapun ciri orang yang ridha adalah sebagai berikut:

1. Tidak gelisah terhadap ketetapan atau takdir apapun yang berasal dari Allah
2. Menyikapi segala hal yang berasal dari Allah dengan lapang dada dan senang hati
3. Bisa menjaga setabilitas dan keseimbangan hati, termasuk ketika menghadapi kondisi paling sulit
4. Tidak menderita ketika tertimpa musibah, karena ini merupakan pemberian dari Allah

Bagi seseorang yang sudah mencapai tingkatan tertentu, ketika ada musibah yang beratpun bisa menerima dengan tersenyum, karena meyakini bahwa musibah tersebut datangnya dari Allah SWT.

Sebenarnya ridha terhadap penyingkapan dan takdir Allah merupakan jalan terpenting menuju kebahagiaan. Rasulullah SAW bersabda, "Di antara kebahagiaan anak Adam adalah keridhaannya dengan apa yang telah Allah tetapkan terhadap dirinya. Dan di antara kesengsaraan anak Adam adalah sikapnya meninggalkan istikharah (memohon petunjuk untuk memilih yang terbaik) kepada Allah. Dan di antara kesengsaraan anak Adam adalah sikapnya yang marah kepada apa yang telah ditetapkan Allah (at-Tirmidzi, al-qadar 15 ; al-Musnad, Imam Ahmad 1/168 ).

Di sini terlihat beda antara orang yang ridha adalah orang yang mengikuti hidayah dan sanggup memprioritaskan keinginan Allah di atas keinginan pribadi. Sementara orang yang marah atau tidak ridha adalah orang selalu mengikuti hawa nafsu. Sesungguhnya semua bentuk ketaatan dan ibadah merupakan buah dari ridha, sedangkan kemaksiatan adalah buah dari penolakan terhadap sifat ridha.

Dalam kehidupan sehari-hari yang sangat ketat persaingannya, membuat kita belum siap dalam menghadapi musibah ringan apalagi musibah berat. Oleh karena itu hendaknya kita selalu mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Kenikmatan iman akan dirasakan oleh hamba yang ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Rasul. Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang ridha atas ketetapan-Nya.

Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)