Takut Dirazia, Pengecer Sembunyikan Tabloid Syur
Selasa, 07 Feb 2006 16:53 WIB
Palembang - Meskipun aparat kepolisian di Palembang belum melakukan razia majalah-majalah berbau pornografi seperti di Jakarta, tapi sejumlah pedagang eceran koran, tabloid dan majalah di Palembang mulai menyembunyikan dagangannya. "Ya, memang polisi tidak merazia kami. Tapi kami takut kalau ada razia. Ya biar aman, kita tidak jual dulu majalah yang banyak gambar betino (perempuan)," kata Zakir, pengecer koran dan majalah di Jalan Rustam Effendi, depan International Plaza, Palembang, Selasa (7/2/2006). Memang, jumlah majalah dan tabloid yang dijual Zakir sedikit berkurang dari biasanya. "Saya nih serba salah. Sebab banyak pelanggan yang menanyakan majalah yang biasa dijual. Rugi sih, tapi ya dari pada di penjara," kata Zakir. Pengecer koran dan majalah di tempat lain di Palembang juga "menyimpan" majalah yang banyak menampilkan perempuan dengan pose pakaian minim. Misalnya tiga lapak pengecer di kawasan Gaya Baru, Jalan Kolonel Atmo Palembang. "Hati-hati bae. Kalau aman ya mungkin kita jual lagi," kilah Udin. Sebagian warga Palembang keberatan dengan usaha pemerintah yang akan memberlakukan UU Pornografi. "Pornografi ini kan relatif. Kalau mau jujur, kalau kita ke dusun-dusun, banyak tuh orang yang bertelanjang dada. Tapi, kok tidak disebut pornografi. Jadi, menurut aku pornografi itu sifatnya pribadi. Subjektif. Tergantung orang yang memandangnya. Kalau takut tergoda, ya, jangan beli," kata Jhoni,warga Palembang yang kecewa majalah hiburan yang dicarinya tidak ada di pasaran. Sebelumnya, Kapoltabes Palembang Kombes Pol Wakin Wardiwiyono menilai gambar-gambar di dalam majalah yang beredar di Palembang saat ini masih dalam taraf kewajaran. "Sejauh ini yang dijual pengecer seperti tabloid yang menggunakan bikini masih dianggap wajar," kata Wakin kepada pers via telepon. Tetapi, pihaknya akan menindak tegas pelaku pornografi baik itu dalam bentuk tulisan, aksi dan gambar. Beberapa waktu yang lalu, Walikota Palembang Eddy Santana Putra bersikap akan melarang peredaran majalah Playboy versi Indonesia di Palembang. Sebab majalah tersebut dinilai berbau pornografi yang akan merusak mental generasi muda. Selain itu, Eddy juga meminta masyarakat untuk tidak membeli majalah tersebut sehingga pemasarannya akan mati.
(nrl/)











































