Tuntut UMP, Karyawan Ancam Tutup Malioboro Mall
Selasa, 07 Feb 2006 13:53 WIB
Yogyakarta - Jika Anda dolan ke Yogyakarta, tentu dengan mudah Anda bisa menemukan Maliboro Mall. Lokasi pusat belanja ini tepat di jantung kawasan wisata Jalan Malioboro yang terkenal itu.Meski namanya beken, namun para karyawan pusat belanja modern itu gajinya masih di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP). Karena itulah karyawan Malioboro Mall mengancam akan menutup mal besar itu. Mereka menuntut gaji yang saat ini sebesar Rp 400 ribu/bulan itu disesuaikan dengan UMP DIY sebesar Rp 460 ribu/bulan.Hal itu diungkapkan oleh Ketua Serikat Pekerja (SP) unit Malioboro Mall, Gunawan, saat berdialog dengan anggota Komisi E DPRD DIY di kantor DPRD di Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (7/2/2006). Dalam pertemuan itu, Komisi E dipimpin wakil ketua komisi, Mualiban. Sedangkan pihak manajemen dihadiri Kepala Personalia Hendro S."Selama ini kalau kita berbicara dengan manajemen selalu mentok tidak ada keputusan. Kalau seperti ini terus dan tak terbendung lagi. Jangan disalahkan kalau kami bisa saja menutup Malioboro Mall sampai tuntutan dipenuhi," ancam Gunawan. Namun, kata Gunawan, karyawan Malioboro Mall yang rata-rata telah bekerja lebih dari 10 tahun itu masih punya kesabaran dan masih bersedia berdialog dengan pihak manajemen (HRD). Hanya saja pihak manajemen selalu berkilah bahwa keputusan ada di tangan direktur utama PT Yogya Indah Sejahtera (YIS) yang selama ini mengelola Malioboro Mall. "Kami juga pesimistis pertemuan dengan manajemen bersama Dewan dan Disnaker Kota Yogyakarta saat ini akan menghasilkan keputusan yang menggembirakan bagi karyawan bila yang datang hanya kepala HRD saja, bukan direktur utama," katanya.Sekretaris SPSI Unit Malioboro Mall, Aris Nurjayanti, menambahkan selain menuntut gaji diseusaikan dengan UMP DIY Rp 460 ribu/bulan, karyawan juga menuntut adanya kenaikan gaji berkala tahunan. Namun kenyataannya, pihak manajemen tidak mengabulkan tuntutan karyawan."Kami sudah berkali-kali bertemu tapi tak pernah ada hasil dengan alasan keputusan di tangan dirut di Jakarta. Mosok dengan pertumbuhan Malioboro Mall yang pesat itu tidak bisa menaikkan gaji sesuai UMP DIY,"tegas Aris.Sementara itu, Hendro mewakili PT YIS mengakui bila setiap tahun selalu memberikan kenaikan gaji karyawan, meski untuk tahun 2006 ini ada keterlambatan. Pihaknya juga sudah mengajukan permintaan karyawan mengenaikenaikan gaji kepada direktur utama. Hanya saja sampai sekarang belum ada jawaban dari dirut. "Itikad manajemen ada, tapi baru diusulkan. Setelah kenaikan BBM dan rencana kenaikan TDL ini, bisnis kami memang agak tidak baik," kilah Hendro.Pernyataan Hendro itu langsung diinterupsi oleh Aris bahwa manajemen tidak pernah menjanjikan akan ada kenaikan gaji tahun ini. Sebab pihak direktur utama melalui manajemen sudah mengetok tidak ada kenaikan gaji. "Ucapan Pak Hendro itu ada kebohongan, Pak. Sebab dirut melalui manajemen sudah mengetok bilang tidak," tukas Aris.Pertemuan lebih kurang dua jam yang difasilitas anggota Komisi E dan Disnaker kota Yogyakarta itu akhirnya menemui jalan buntu. Karyawan tetap menuntut ada kenaikan gaji, tetapi pihak manajemen tak bersedia.
(nrl/)











































