IDI Sarankan Pemerintah Tambah RS Rujukan COVID Secara Berkala, Ini Alasannya

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 20:27 WIB
Seorang dokter berdiri di dalam salah satu ruang modular di Rumah Sakit Pertamina Jaya, Cempaka Putih, Jakarta, Senin (6/4/2020). Rumah Sakit darurat COVID-19 tersebut berkapasitas sebanyak 160 tempat tidur dalam ruangan dan 65 kamar isolasi bertekanan negatif untuk merawat pasien positif COVID-19 sesuai standar yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/wsj.
Rumah Sakit Rujukan COVID (Risyal Hidayat/Antara Foto)
Jakarta -

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyarankan kepada pemerintah untuk terus menambah jumlah rumah sakit rujukan COVID-19 secara berkala. Langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi terus meningkatnya jumlah pasien COVID-19 di Indonesia.

Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar IDI Zubairi Djoeban mengatakan saat ini terjadi tren peningkatan kasus baru COVID-19 di Indonesia. Tren peningkatan yang cukup tinggi terjadi di dua minggu terakhir.

"Kasus positif dalam seminggu, dua minggu terakhir memang benar naik jadi untuk Indonesia rata-rata di atas 25 persen yang tadinya sempat rendah 15 persen secara bertahap naik sampai sekarang di atas 25 persen. Di Jakarta juga sama, dari 8 persen, 9 persen, 10 persen, sekarang di atas 15 persen, jadi benar ada kenaikan," ucap Zubairi dalam diskusi daring yang digelar Lembaga Survei Kedaikopi, Selasa (19/1/2021).

Ia menyebut banyak faktor yang menyebabkan kenaikan kasus baru COVID di Indonesia, mulai dari adanya aksi massa hingga liburan panjang. Menurutnya, tingginya angka peningkatan kasus COVID itu akan membuat kapasitas rumah sakit-rumah sakit jadi penuh.

Sebab, ia mengatakan fenomena rumah sakit banyak yang penuh ini sudah terjadi di seluruh dunia, dari China, Prancis, hingga Amerika. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya jumlah kasus COVID-19.

"Memang di mana-mana di dunia ini, mulai dari China mula, rumah sakit penuh sehingga buat rumah sakit darurat. Mulai dari Eropa, Spanyol, Italia, Prancis, Jerman, dan apalagi Inggris yang sekarang tinggi banget itu pernah mengalami rumah sakit penuh," sebutnya.

Untuk itu, ia meminta pemerintah mengantisipasi peningkatan kasus baru COVID dengan menambah jumlah rumah sakit rujukan. Zubairi menyebut penambahan rumah sakit rujukan harus dilakukan secara berkala

"Emang keterbatasan rumah sakit, ICU, ventilator itu terjadi di mana-mana artinya kita memang harus antisipasi dari waktu ke waktu. Kalau kita sudah naikkan jumlah rumah sakit untuk rujukan, sekarang harus naikkan lagi, bulan depan harus naik lagi, kita memang harus menyesuaikan dengan lapangan mau tidak mau, senang tidak senang masalahnya sekarang ini tetap akan naik terus," ucap Zubairi.

"Harus menyiapkan diri bagaimana kalau sebentar lagi jumlah kasus kita naik 1 juta kalau naik 1,2 juta, 1,5 juta. Artinya memang harus menyesuaikan, harus menambahkan secara berkala bed RS, bed ICU, ventilator. Nakes juga jangan lupa, nakes harus ditambah. Sekarang dokter, nakes mulai kecapekan penularan di diantara nakes menjadi lebih tinggi, kita harus antisipasi," jelasnya.

(ibh/hri)