Ini Rencana Satgas agar Corona Tak Nyebar di Pengungsian Korban Bencana

Yulida Medistiara - detikNews
Selasa, 19 Jan 2021 19:25 WIB
Ilustrasi Tes Swab
Ilustrasi (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta -

Satgas COVID-19 menyampaikan rencana kesiapsiagaan pencegahan penularan COVID-19 di tempat pengungsian. Rencana tersebut mulai rapid test antigen massal hingga memisahkan tempat pengungsian bagi kelompok rentan.

"Keadaan yang berdesakan saat berada di tempat evakuasi bisa menyebabkan tempat tersebut menjadi pusat infeksi virus Corona," kata jubir Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito dalam konferensi pers yang disiarkan di YouTube BNPB Indonesia, Selasa (19/1/2021).

Wiku mengatakan ancaman penularan ini menjadi beban ganda, yang umumnya di pengungsian akan meningkat penyakit lainnya, seperti gangguan pencernaan diare atau stres. Adapun upaya Satgas dalam mencegah penularan di lokasi pengungsian antara lain melaksanakan swab antigen massal.

"Satgas berusaha responsif terhadap kekhawatiran ini dengan melaksanakan swab antigen massal pada daerah-daerah terdampak bencana, salah satunya gempa di Majene, Sulawesi Barat. Nantinya pengungsi yang reaktif akan dirujuk ke dinkes setempat untuk penanganan lebih lanjut," ungkapnya.

Satgas juga mengantisipasi penularan COVID-19 dengan memisahkan lokasi pengungsian di antara kelompok rentan, seperti lansia dan penderita komorbid dengan kelompok berusia muda. Selain itu, akan dilakukan pemetaan, mana rumah sakit rujukan COVID-19 yang terdampak bencana dengan yang tidak.

Di lokasi pengungsian juga perlu dilakukan disinfeksi rutin. Ketersediaan sarana kebersihan, seperti air bersih, peralatan cuci tangan, sabun, dan hand sanitizer juga harus dipastikan.

"Menyiapkan sarana-prasarana dan protokol dengan menyiapkan cadangan APD (alat pelindung diri) dan termometer sebagai bagian dari peralatan P3K," sebut Wiku.

Satgas mewanti-wanti agar pasien yang terjangkit COVID-19 tidak dirawat di daerah risiko bencana, sehingga tidak perlu dilakukan mobilisasi jika terjadi bencana. Satgas juga meminta BPBD dan pemerintah daerah menyiapkan protokol khusus evakuasi pasien COVID-19 dan petugas medis.

Selain itu, Satgas mempertimbangkan kapasitas tempat evakuasi sementara (TES) dan tempat evakuasi akhir (TEA). Itu dilakukan agar warga terdampak bencana bisa tetap menjaga jarak.

"BPBD perlu berkoordinasi dengan dinkes agar memiliki data dan mengetahui lokasi-lokasi kasus positif yang tinggal di area terdampak bencana. Memberi tanda khusus bagi kasus positif dan tidak saat evakuasi serta memberikan pita dengan warna khusus di tangan, masker dengan tanda khusus, atau tanda lain," katanya.

"Perlu ditetapkan TES dan TEA untuk kasus positif yang terpisah dari masyarakat yang sehat. Perlu dipertimbangkan juga rencana jalur evakuasi dan rencana pengungsian di mana kasus positif dan warga yang sehat terpisah dengan dibarengi sosialisasi yang masif sebelum pelaksanaan evakuasi. Dan perlu ditekankan pada pekerja sosial untuk membantu evakuasi kasus positif COVID-19 dengan mengenakan APD dan dilengkapi peralatan P3K," sambungnya.

(yld/zak)