Edhy Prabowo Ngaku Tak Kenal Gubernur Bengkulu dan Bupati Kaur

Farih Maulana Sidik - detikNews
Senin, 18 Jan 2021 17:43 WIB
Eks Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo usai diperiksa KPK
Edhy Prabowo (Isal Mawardi /detikcom)
Jakarta - Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah dan Bupati Kaur, Bengkulu, Gusril Pausi, diperiksa KPK terkait kasus suap ekspor benih lobster atau benur hari ini. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo, mengaku tak mengenal keduanya.

"Nggak kenal, nggak kenal," kata Edhy setelah menjalani pemeriksaan di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Senin, (18/1/2021).

Edhy menyebut hari ini diperiksa atas lanjutan pemeriksaan sebelumnya. Dia menepis jika pemeriksaannya hari ini ditanya terkait Rohidin dan Gusril. Edhy tak mengetahui alasan penyidik memanggil dua orang tersebut.

"Nggak tahu saya (kedatangan Gusril, dan Rohidin), tanya saja langsung sama dia," ucap Edhy.

Seperti diketahui, KPK kembali memanggil Rohidin Mersyah dan Gusril Pausi terkait kasus suap ekspor benih lobster. Keduanya dipanggil sebagai saksi untuk tersangka mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

"Mereka dipanggil menjadi saksi untuk tersangka EP (Edhy Prabowo)," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Senin (18/1).

Dalam pemanggilan pertama, kedua pejabat itu tidak memenuhi panggilan KPK. Gusril dipanggil pada Senin (11/1), sedangkan Gubernur Bengkulu Rohidin dipanggil pada Selasa (12/1).

Dalam kasus ini, KPK menetapkan tujuh orang tersangka, termasuk Edhy Prabowo. Selain Edhy, ada enam orang lain yang ditetapkan sebagai tersangka.

Berikut ini daftar ketujuh tersangka:

Sebagai penerima:
1. Edhy Prabowo (EP), eks Menteri KKP;
2. Safri (SAF), eks Stafsus Menteri KKP;
3. Andreau Pribadi Misanta (APM), eks Stafsus Menteri KKP;
4. Siswadi (SWD), Pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK);
5. Ainul Faqih (AF), Staf istri Edhy Prabowo; dan
6. Amiril Mukminin (AM)

Sebagai pemberi:
7. Suharjito (SJT), Direktur PT DPP

Secara singkat, PT DPP merupakan calon eksportir benur yang diduga memberikan uang kepada Edhy Prabowo melalui sejumlah pihak, termasuk dua stafsusnya. Dalam urusan ekspor benur ini, Edhy diduga mengatur agar semua eksportir melewati PT ACK sebagai forwarder dengan biaya angkut Rp 1.800 per ekor.

KPK menduga suap untuk Edhy Prabowo ditampung dalam rekening anak buahnya. Salah satu penggunaan uang suap yang diungkap KPK adalah ketika Edhy Prabowo berbelanja barang mewah di Amerika Serikat (AS), seperti jam tangan Rolex, tas LV, dan baju Old Navy. (fas/gbr)