ROV Tetap Dipakai Cari CVR Sriwijaya, Basarnas: Efektif di Malam Hari

Rahmat Fathan - detikNews
Minggu, 17 Jan 2021 19:13 WIB
Tim yang bertugas di Kapal Riset (KR) Baruna Jaya I terus melakukan pencarian cockpit voice recorder (CVR) Lion Air PK-LQP. Pencarian menggunakan Remote Operated Vehicle (ROV).
Foto: ROV digunakan saat pencarian pesawat Lion Air yang jatuh di perairan Karawang pada 2018 lalu. (Pradita Utama)
Jakarta -

Basarnas memastikan akan tetap menggunakan remotely operated underwater vehicle (ROV) atau robot bawah laut milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam pencarian cockpit voice recorder (CVR) Sriwijaya Air SJ182. ROV berfungsi saat pencarian dilakukan pada malam hari.

"Baruna Jaya menyesuaikan dengan masa perpanjangan operasi SAR Basarnas, mengingat belum ditemukannya kotak CVR," kata Deputi Bidang Operasi Pencarian dan Pertolongan dan Kesiapsiagaan Basarnas, Bambang Suryo Aji dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Minggu (17/1/2021).

"Benar (ROV milik BPPT akan tetap dipakai). Hanya jadwal operasinya yang berbeda, ROV lebih efektif saat tidak ada penyelaman atau di malam hari," ujar dia menambahkan.

Salah satu kapal yang digunakan untuk mengevakuasi pesawat dan penumpang Sriwijaya Air SJ182 ialah Kapal Baruna Jaya IV. Kapal Baruna Jaya IV memiliki ROV, yang berasal memang dari BPPT. Pencarian CVR Sriwijaya Air juga dikoordinasikan dengan Komite Nasional Keselematan Transportasi (KNKT).

"Kita selalu koordinasi dengan Kepala KNKT," tutur Suryo.

Suryo Sebelumnya menyampaikan CVR Sriwijaya Air SJ182 hingga kini belum ditemukan. Pencarian terkendala lantaran CVR yang tidak lagi memancarkan sinyal.

Kemudian Suryo menyebut pencarian CVR paling efektif dilakukan dengan operasi ROV. "Yang efektif adalah dengan menggunakan ROV, kerja ROV. Itu maksimal bisa dilaksanakan yang terbaik adalah pada saat malam hari ketika tim penyelam sudah berkurang," tutur Suryo di JICT2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (17/1/2021).

Untuk diketahui, dalam CVR terdapat komponen underwater locator beacon (ULB) atau yang juga disebut underwater acoustic beacon. ULB tersebut dapat memancarkan sinyal 'Ping' yang bisa dilacak apabila pesawat jatuh ke dalam air. Sinyal ini mampu bekerja di kedalaman 6.000 meter selama tiga bulan.

Kondisi pencarian CVR Sriwijaya Air SJ182 berbeda dengan saat mencari CVR Lion Air yang jatuh di perairan Kawarang pada 2018 lalu. Simak di halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2