Kisah Ibu Pasang Badan Lindungi Anak dari Rerentuhan Akibat Gempa Sulbar

Hasrul Nawir - detikNews
Sabtu, 16 Jan 2021 17:35 WIB
Fatimah, korban gempa Sulbar mengevakuasi anaknya hingga Parepare, Sulsel.
Fatimah, korban gempa Sulbar, mengevakuasi anaknya hingga Parepare, Sulsel. (Hasrul/detikcom)
Parepare -

Sitti Fatimah (35), warga warga Tapppalan, Kecamatan Simboro dan Kepulauan, tidak henti-hentinya mengucap syukur. Pasalnya dia, suami, dan bocah laki-lakinya selamat dari bencana gempa bumi bermagnitudo 6,2 pada Jumat dini hari di Sulawesi Barat (Sulbar).

Meski mereka selamat, anak semata wayangnya, Erfandi (3), harus menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSU Andi Makkasau, Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Ditemui detikcom di ruang ICU RSU Andi Makkasau, Sabtu (16/1/2021), Fatimah bercerita bagaimana dia dan keluarga selamat.

Saat gempa, Fatimah baru saja hendak memejamkan mata saat sang buah hati sudah terlelap. "Waktu kejadian yang parah ini malam pukul 02.30 Wita, saya kasih tidur (Erfandi) di kamar, tiba-tiba bangunan rumah langsung ambruk," katanya.

Naluri keibuan Fatimah pun langsung muncul. Badannya dijadikan tameng untuk melindungi putra semata wayangnya tersebut.

"Sempat kulindungi badannya, tapi kepalanya kena (reruntuhan). Kalau badannya aman karena kena badanku. Badan memar semua, tapi yang penting anak selamat," terangnya.

Dalam keadaan panik dan sempoyongan, dia lari ke luar rumah menggendong anaknya.

"Saat itu anak saya dalam keadaan tidak sadar selama 5 menit, langsung dikasih napas buatan sama ayahnya. Tidak lama kemudian langsung sadar tapi muntah-muntah," bebernya.

Fatimah dan suaminya dalam gelap meminta pertolongan. Namun warga sekitar juga sudah menyelamatkan diri lari ke tempat yang lebih tinggi karena takut akan tsunami.

"Akhirnya saya dan suami berjalan kaki sambil menggendong anak ke jalan poros mencari pertolongan, sampai pagi baru ketemu tim medis," kenangnya.

Cerita Fatimah tidak berhenti sampai di situ. Keterbatasan obat dan perawatan medis lainnya menjadi kendala.

"Hanya ada cairan infus saja, sehingga saya berinisiatif ke Kota Mamuju. Pas dapat kendaraan menuju Mamuju, di tengah jalan terhambat karena akses jalan masih tertutup," ungkapnya.

Bagaimana Fatimah dan suami mengevakuasi anaknya? Simak halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2