Kolom Hikmah

Syekh Ali Jaber dan Warisan Keteladanannya untuk Umat

Erwin Dariyanto - detikNews
Jumat, 15 Jan 2021 04:48 WIB
Syekh Ali Jaber meninggal dunia pagi tadi karena sakit Kamis, (14/1). Syekh Ali Jaber  adalah ulama besar dan penghapal Al-Quran yang lahir di Madinah.
Foto: pool
Jakarta -

Duka mendalam dirasakan umat Islam di Indonesia. Pada Kamis kemarin, Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau yang akrab disapa Syekh Ali Jaber, seorang ulama, hafiz Quran dan pendakwah berpulang ke haribaan Allah SWT. Sang Syekh kelahiran Madinah itu meninggal dunia dalam usia 44 tahun. Satu lagi pewaris nabi pergi meninggalkan kita umat Islam.

Rasulullah SAW seperti diriwayatkan dalam hadits riwayat Imam At Tirmidzi bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنَ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak."

Dan ketika ulama wafat, itu menjadi salah satu pertanda telah dicabutnya ilmu oleh Allah SWT. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam seperti diriwayatkan dari Abdullah bin 'Amr ibnul 'Ash, bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

"Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia (Allah) mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari dan Muslim).

Umat Islam di Indonesia kehilangan seorang ulama teladan. Syekh Ali Jaber sudah menjadi hafiz Al Quran sejak usia 10 tahun. Saat berusia 13 tahun dia sudah diangkat menjadi imam di salah satu masjid di Madinah. Pada 2011 dia pindah kewarganegaraan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) setelah sebelumnya sering tampil menjadi juri hafiz Quran. Penulis sepakat dengan Ustaz Ahmad Alhabsyi, Syekh Ali Jaber telah berperan dalam meng-Al Quran-kan Indonesia.

Banyak teladan yang bisa dicontoh dari Syekh Ali Jaber. Salah satunya soal sifat pemaaf. Syekh Ali Jaber memaafkan seorang pelaku penusukan terhadap dirinya. Kepada Tim Blak-blakan detikcom beberapa waktu lalu, Syekh Ali Jaber mengatakan bahwa dia hanya ingin mencontoh perilaku pemaaf Rasulullah SAW.

"Saya ingin meniru Nabi Muhammad SAW, Nabi Muhammad 13 tahun di Mekah, diserang, dihina, sampai dibuang kotoran unta di atas kepalanya, diancam mati." Begitu kata Syekh Ali Jaber.

Teringat kita bagaimana pemaafnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Nabi Muhammad SAW tak punya sifat pendendam, tak pernah membalas kejelekan dengan kejelekan. Sang penghulu Rasul itu memiliki perasaan yang sangat halus dan selalu memaafkan orang yang menyakiti dan menghinanya. Pernah suatu ketika umat Islam berhasil menaklukkan Mekah, ada seseorang bernama Wahsyi menghadap Rasulullah SAW.

Wahsyi adalah orang yang dengan licik dan keji membunuh paman Nabi Muhammad SAW, Hamzah bin Abdul Muthalib di Perang Uhud. Setelah Mekah dikuasai umat Islam, Wahsyi tak tahu harus ke mana melarikan diri. Jalan satu-satunya adalah menghadap Rasulullah SAW dan menyatakan masuk Islam agar dimaafkan.

Dan benar setelah masuk Islam dan mengakui kesalahannya karena dengan keji membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib, Nabi Muhammad memaafkan Wahsyi. Namun Nabi Muhammad minta Wahsyi tidak menampakkan diri di hadapannya.

Syekh Ali Jaber juga memiliki sifat rendah hati. Dia merasa bukan seorang wali, sehingga sebagai manusia biasa tetap memiliki salah dan dosa. Soal gelar 'Syekh', itu sebenarnya gelar sapaan saat dia duduk di bangku sekolah dasar. Musabab sudah hafiz Quran sejak usia SD, oleh para sahabat dan guru, dia dipanggil Syekh.

Terkadang dia merasa malu dengan panggilan Syekh tersebut. Dia pun kadang bertanya, Apakah layak dipanggil dengan gelar Syekh. Apakah akhlaknya pantas dan berhak mendapat gelar tersebut. Syekh Ali Jaber merasa pencantuman gelar Syekh tersebut menjadi beban tersendiri sekaligus kontrol bagi perilakunya. Sebagaimana perilaku para ulama dan Syekh sebelumnya yang senantiasa menebarkan Islam yang Rahmatan lil Alamin.


Selamat jalan Syekh Ali Jaber. Terimakasih atas keteladanan dan kesejukan Syekh dalam berdakwah.

Erwin Dariyanto

Redaktur Pelaksana Special Content dan Hikmah detikcom

*Artikel ini merupakan pendapat pribadi penulis. Isi artikel bukan menjadi tanggung jawab redaksi detikcom. -Terima kasih (redaksi)

(erd/erd)