Pj Walkot Makassar Tepis Kritik IDI soal Lakukan Pelonggaran Saat Pandemi

Hermawan Mappiwali - detikNews
Kamis, 14 Jan 2021 12:33 WIB
Pj Walkot Makassar Rudy Djamaluddin usai divaksin (Hermawan/detikcom).
Pj Walkot Makassar Rudy Djamaluddin setelah divaksinasi. (Hermawan/detikcom)
Makassar -

Pj Wali Kota Makassar Rudy Djamaluddin merespons kritik dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Makassar soal pelonggaran jam malam. Rudy menilai kritikan tersebut keliru.

"Ini keliru. Jadi poin kita bukan masalah pelonggaran dan bukan masalah menambah atau mengurangi jam operasi, tapi yang poinnya adalah bahwa bagaimana potensi-potensi penularan kita perkecil, itu poinnya," kata Rudy saat ditemui wartawan di Makassar, Kamis (14/1/2021).

Menurut Rudy, pengubahan jam malam, dari pukul 19.00 Wita menjadi pukul 22.00 Wita, punya maksud dan pertimbangan tersendiri.

"Misalnya begini, waktu (batasan jam malam) sampai pukul 19.00 Wita, masyarakat biasanya kan masih beraktivitas sampai ke Pantai Losari, kan ditutup nih, maka dia kembali ke rumahnya kan," jelas Rudy.

"Apakah ada orang tidur pukul 19.00 Wita, nggak ada. Artinya apa, masyarakat itu kembali ke rumah dia belum tidur tetap beraktivitas sehingga itu juga potensi," sambungnya.

Oleh karena kondisi tersebut, sebut Rudy, pembatasan jam malam akhirnya diubah menjadi hingga pukul 22.00 Wita.

"Nah, ternyata lebih bagus dia di luar sedikit nanti pulang baru langsung tidur, makanya kita tambah sampai pukul 22.00 Wita dengan harapan nanti kalau pulang dia sudah tidur," katanya.

Rudy juga mengatakan ada hal-hal positif dari perubahan jam malam tersebut. Masyarakat lebih terpantau.

"Kenapa, bisa kita lebih menekan potensi, karena kalau di Pantai Losari ada Satpol PP yang lihat kan, dia masuk ke mal-mal ada yang lihat dibanding di rumahnya," ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, IDI Kota Makassar mengkritik Surat Edaran Wali Kota Makassar Nomor 448.01/11/S.Edar/Kesbangpol/I/2021 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kota Makassar. IDI mengkritik pelonggaran jam malam di tengah meningkatnya angka pasien terkonfirmasi positif COVID-19.

"Apa yang diambil Pj Wali Kota Makassar sangat kontra dengan kondisi di lapangan. Di tengah peningkatan pasien positif COVID-19 justru memberikan kelonggaran beraktivitas," kata Dewan Pertimbangan IDI Kota Makassar Prof Dr dr Idrus Andi Paturusi SpBO, Selasa (12/1).

Mantan Rektor Unhas Makassar ini menjelaskan, sejak awal 2021 ini, terus terjadi peningkatan positif COVID-19 dengan Makassar sebagai episentrumnya. Hal ini harusnya menjadi perhatian Pemkot Makassar.

"Kita melihat data, baik peningkatan kasus baru maupun kematian dan penggunaan RS (Rumah Sakit), maka agak membingungkan isi surat edaran wali kota di atas. Kemarin 1 lagi dokter wafat. Minggu lalu 3 profesor di Makassar wafat. RS dan hotel isolasi mandiri penuh, IDI sudah mengingatkan, tapi hasilnya seperti ini. Yang ditakutkan kalau dokter bersama nakes sudah berjatuhan maka pelayanan bisa lumpuh,Kebijakan Pj Wali Kota Makassar ini, juga sangat bertentangan dengan imbauan IDI untuk senantiasa tidak menganggap remeh pandemi COVID-19," jelasnya.

(hmw/nvl)