Kolom Hikmah

Menjadi Hamba yang Dicintai Allah SWT

Aunur Rofiq - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 06:15 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Hari-hari ini kita menerima kenyataan bahwa penyebaran covid-19 makin masif. Angka 6.000 orang terinfeksi per hari saja kita sudah terperanjat. Akhir-akhir ini sudah melampaui 9.000 pada Jumat 7 Januari 2021. Angka terpapar Covid-19 bahkan sudah lewati 10.617 orang pada Jumat 8 Januari 2021. Ada berita duka dari seberang, tetangga, teman lama sesama alumni sekolah semua tingkatan.

Semua itu sudah menjadi ketetapan Sang Pencipta sejak zaman azali. Namun demikian sebagai manusia yang lemah, dengan ujian yang sudah melampaui satu tahun ini terasa cukup berat. Untuk itu, sudah waktunya bersatu dalam menyikapi langkah-langkah pencegahan penyebaran infeksi ini.

Meninggal dunia atau dipanggil kehadirat-Nya, sudah menjadi perbincangan sehari-hari. Kita telah meyakini bahwa setiap manusia akan kembali menuju kehadirat-Nya, ada yg bertanya, "Kapan giliran saya?" Tentu tidak ada yang tahu. Yang pasti kita akan meninggalkan dunia ini, jadi bisa sewaktu-waktu bisa juga masih lama. Oleh karena itu, perbanyaklah bekal menuju akhirat dan mohonlah ampunan atas kesalahan yang telah diperbuat.

Kalau kita simak firman Allah SWT dalam Al Quran Surat Yasin ayat 65 yang artinya, "Pada hari ini Kami tutup mulut mereka, dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan."

Kedua tangan dan kaki yang menjadi saksi dan berbicara atas apa yang selama ini telah diperbuat di dunia. Karena mulut mereka telah dikunci.
Nafas dari ayat ini menjadi dasar penulisan syair lagu "Ketika Tangan dan Kaki Berkata" yang dipopulerkan oleh Chrisye (alm) dan ditulis oleh Taufiq Ismail.
Dalam proses penulisan syair yang konon ceritanya hampir tidak disanggupi dan akhirnya selesei. Mengungkap keagungan Sang Pencipta, sangat sulit dalam memilih kata yang bermakna sesuai tujuan. Proses rekamanpun demikian, tidak seperti biasanya karena sang penyanyi sangat meresapi makna syair tersebut, sehingga penyeleseian rekaman lagu ini memerlukan perjuangan tersendiri. Mendengarkan lagu tersebut tidak ada rasa bosan dan kadang menitikkan air mata.

Bagaimana menyikapi situasi saat ini?, ada pandemi, ada keyakinan bahwa kita semua pada saatnya akan menghadap Yang Kuasa. Kita bagi dua langkah sebagai berikut:

1. Langkah menghadapi pandemi. Pencegahan terhadap penyebaran covid-19 bukan hanya urusan Pemerintah saja, namun masyarakat perlu aktif berpartisipasi mencegahnya. Pemerintah telah menetapkan tgl 11 - 25 Januari 2021 sebagai program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Di sini dimulai lingkungan paling kecil, yaitu rumah tangga. Semua anggota rumah tangga mematuhi dan menjalankan dengan disiplin ketat prokes yang telah ditetapkan. Keluar rumah sejauh mungkin dihindari, jika tidak terkalu urgent dan penting bisa dilakukan via telp atau lainnya, intinya menghindari tatap muka apalagi keramaian.

Maka masyarakat bersama Pemerintah bersatulah dan singkron hadapi bahaya makin tingginya penyebaran covid -19. Pemerintah dapat mengajak Ormas-ormas besar (mewakil masyarakat) merumuskan langkah pencegahan dan diaplikasikan bersama. Secara bersama-sama berdoa memohon kepada Allah Swt. Untuk menjaga dan melindungi umat dari penyebaran infeksi covid-19.

2. Langkah ini mempersiapkan jika suatu saat dipanggil Yang Kuasa. Adapun persiapan sebagai berikut:
a. Menambah bekal akhirat dg amal perbuatan dan b. bertobat atas perbuatan buruk yg telah dilakukan. Secara ringkas untuk menambah bekal akhirat dengan bertaqwa dan selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. Sedangkan memohon ampunan melalui bertobat, merupakan langkah meninggalkan dosa dan berniat tidak akan pernah mengulanginya. Ada rasa penyesalan yang sangat mendalam. Firman Allah SWT tentang orang yang bertobat, "Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertobat." ( QS. al-Baqarah : 222 ).

Adapun persiapan seseorang yang akan bertobat ada tiga perkara, yakni Mengingat betapa buruknya dosa, Mengingat beratnya siksa dan murka Allah, dan Mengingat kelemahan diri yang susah menghindari perbuatan dosa.

Sekali-kali janganlah meremehkan dosa-dosa kecil, karena dosa kecil yang terus menerus adalah dosa besar. Maka segeralah bertobat.

Dengan bertobat, seseorang telah menyadari kesalahannya dan berjanji untuk memperbaikinya. Semoga Allah selalu membuka pintu tobat hamba-Nya dan kita menjadi hamba yang dicintai Allah SWT.

Aunur Rofiq

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

Sekjen DPP PPP 2014-2016

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)