Profil Pasukan Elite TNI yang Temukan Puing-Bagian Tubuh Korban Sriwijaya Air

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Senin, 11 Jan 2021 08:45 WIB
Denjaka Temukan Benda Mirip Roda-Nomor Tempat Duduk Sriwijaya Air SJ182
Denjaka saat melakukan pencarian pesawat Sriwijaya Air. (Dok. Tim SAR Gabungan)

2. Kopaska

Komandan Pasukan Katak atau Kopaska didirikan pada 31 Maret 1962 oleh Presiden Sukarno. Pasukan elite ini juga sudah sangat dikenal di kancah internasional.

Kopaska kala itu dibentuk Sukarno untuk mendukung kampanye militer Operasi Trikora di Irian Barat. Operasi Trikora adalah konflik 2 tahun yang dilancarkan Indonesia untuk menggabungkan wilayah Irian Barat.

Kopaska memiliki tugas untuk menyerbu kapal dan pangkalan musuh, menghancurkan instalasi bawah air, penyiapan perebutan pantai, dan operasi pendaratan berkekuatan amfibi. Satuan ini memiliki semboyan 'Tan Hana Wighna Tan Sirna' yang berarti tak ada rintangan yang tak dapat diatasi.

Kopaska saat ini terbagi menjadi 3 komando. Satuan Komando Pasukan Katak Armada I di Pondok Dayung, Jakarta Utara; Satuan Komando Pasukan Katak Armada II di Surabaya; dan Satuan Komando Pasukan Katak Armada III di Sorong.

Sama seperti Denjaka, anggota Kopaska merupakan personel pilihan. Calon anggota Kopaska harus melalui berbagai tahap pendidikan, seperti tes ketahanan air, psikotes khusus, tes kesehatan khusus bawah air, hingga berbagai tes jasmani lainnya. Jika terpilih, mereka akan digembleng dengan latihan-latihan khusus.

Kopaska sendiri telah melaksanakan berbagai macam operasi khusus. Salah satu yang membuat Kopaska cukup dikenal adalah saat ikut andil dalam pembebasan sandera bajak laut Somalia, yakni kapal MV Sinar Kudus yang dioperasikan PT Samudera Indonesia di perairan Laut Arab pada 2011.

3. Taifib

Batalion Intai Amfibi merupakan pasukan elit dalam Korps Marinir. Pasukan elite ini memiliki spesialisasi dalam operasi pengintaian amfibi (amphibious reconnaissance) dan pengintaian khusus (special reconnaissance).

Sebelumnya, Taifib dikenal dengan nama KIPAM (Komando Intai Para Amfibi). KIPAM kala itu dibentuk untuk menjawab kebutuhan diperlukannya pasukan khusus yang terlatih dan mampu melaksanakan kegiatan khusus yang tidak dapat dikerjakan oleh satuan biasa dalam rangka keberhasilan tugas.

KIPAM kemudian berubah menjadi Yon lntai Para Amfibi, Satuan Intai Amfibi, hingga sekarang menjadi Batalion Intai Amfibi.

YonTaifib mempunyai tugas pokok membina dan menyediakan kekuatan serta membina kemampuan unsur-unsur amfibi ataupun pengintaian darat serta tugas-tugas operasi khusus dalam rangka pelaksanaan operasi pendaratan amfibi, operasi oleh satuan tugas TNI AL, atau tugas-tugas operasi lainnya.

Mereka memiliki semboyan Maya Netra Yamadipati, berasal dari bahasa Sansekerta. Maya Netra berarti tidak kelihatan, sedangkan Yamadipati artinya malaikat pencabut nyawa.

Pasukan Taifib dididik dengan ketat dan keras melalui beberapa tahap. Mereka dipilih dari prajurit pilihan Korps Marinir. Para prajurit pasukan elit ini juga secara khusus mengikuti program yang ketat dengan tingkat risiko yang tinggi.


(mae/imk)